Petani Gagal Panen Dan Rugi Puluhan Juta

0
146
https://images.app.goo.gl/xvk3LJN4Ga9Xp1Rq5

Indonesia  bisa dikatakan sebagai Negara agraris yang mengandalkan sektor pertanian, di mana sektor pertanian  ini sangat memengaruhi pertumbuhan perekonomian di Indonesia. Namun, kasus dalam pertanian seperti gagal panen sering terjadi, sehingga berdampak buruk terhadap keberlangsungan pembangunan pertanian di Indonesia. Masalah di sektor pertanian sangat beragam dan menyeluruh di wilayah Indonesia.

Salah satunya contohnya Petani jagung di wilayah Kecamatan Solokuro yang mengalami gagal panen dan rugi hingga puluhan juta rupiah karena adanya serangan dari hama tikus. Serangan tikus ini membabat habis jagung dan padi petani, pada umumnya tikus menyerang tanaman pada malam hari sedangkan pada siang hari tikus lebih banyak bersembunyi.

Keberadaan tikus-tikus ini sangat banyak hingga tidak terkendali, akibatnya Petani khususnya di wilayah Solokuro mengalami banyak kerugian.  Serangan tikus ini dimulai sejak selesai penanaman hingga menuju panen. Pengendalian hama tikus ini sudah banyak dilakukan oleh petani dengan berbagai cara namun belum sepenuhnya berhasil, dimulai dengan cara tradisional maupun dengan modern.

Cara tradisional yang dilakukan yaitu:

  1. Memberi racun pada sarang tikus
  2. Membuat suara dari kaleng bekas untuk menakut-nakuti tikus
  3. Memberi kapur barus/kamper

Sedangkan untuk cara modern yaitu:

  1. Memberi kawat berarus listrik
  2. Menggunakan suara keras/sound sistem
  3. Menggunakan lem tikus

Namun hama tikus masih tidak bisa terkendali, oleh karna itu para petani di wilayah Solokuro sangat memerlukan bantuan dari pemerintah agar masalah hama tikus yang hampir setiap tahun terjadi  bisa dikendalikan dan diselesaikan agar para petani bisa mendapatkan keuntungan dari panen mereka. Karena para petani saat ini masih sangat kesulitan dalam mengatasi hama tikus. Selain masalah tikus, para Petani juga kerap mengalami gagal panen akibat cuaca yang ekstrim. Hasil panen para Petani juga tergantung pada cuaca, apalagi yang sawahnya memakai sistem perairan tadah hujan, Sawah yang menggunakan sistem perairan tersebut hanya bisa menanam tanamannya 2 kali dalam setahun hanya pada bulan September sampai bulan April, jika sudah memasuki musim kemarau. Petani biasanya akan berganti profesi dengan berternak atau usaha lainya, mereka tidak lagi bisa bertani hingga musim hujan turun.

Jika masalah ini tidak segera di atasi oleh pemerintah, maka para petani ini akan terus mengalami kerugian disebabkan mahalnya modal mereka dalam bertani, dimulai dari mahalnya harga bibit, pupuk yang semakin langka dan mahal, adapun  peran pemerintah seharusnya banyak dalam mengatasi kelangkaan pupuk, tetapi sepertinya pemerintah belum bisa menangani masalah para petani ini. Padahal Petani sangat berharap kepada pemerintah untuk memberi bantuan, entah itu bibit, pupuk, obat-obatan rumput, atau pembinaan agar para Petani ini bisa menambah ilmu tentang pertanian dan membuat merekah lebih sejahtera, makmur, serta membuat sektor pertanian kita lebih unggul dari pada Negara-negara lain, kita tidak perlu lagi impor hasil pertanian dari Negara lain apabila pertanian di Negara kita berhasil dikembangkan.

Penulis : Hadi Wiranata/PBSI/2024

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini