Makhluk Pemuja Belanja Online

0
84
Pinterest

Belanja online kini bukan sekadar kebiasaan praktis sudah menjelma menjadi gaya hidup yang sulit dilepaskan. Dulu, belanja online hanya menjadi solusi sederhana untuk memenuhi kebutuhan tanpa harus repot keluar rumah. Namun, perlahan-lahan banyak orang terjebak dalam candu belanja yang tak berkesudahan. Tanggal kembar seperti 1.1, 6.6, 8.8, hingga 12.12 seakan menjadi momen suci yang dinanti para pemuja belanja online.

Pada hari-hari itu, berbagai aplikasi seperti Shopee, Lazada, Tokopedia, hingga TikTok Shop berubah menjadi panggung perburuan diskon. Para penggila belanja rela bergadang semalaman, menunggu notifikasi flash sale, voucher potongan harga, dan suara khas “paket COD!” yang menggembirakan bahkan lebih ditunggu daripada pesan dari orang terkasih.

Kita pun seolah sudah terlatih menjadi ahli strategi: hafal kapan promo dimulai, di platform mana barang lebih murah, hingga bagaimana cara menumpuk voucher demi potongan maksimal. Belanja online membuat segalanya lebih praktis, menghemat waktu, dan kadang terasa lebih hemat uang karena bisa membeli dulu, bayar belakangan. Tapi lebih dari itu, aktivitas ini memuaskan keinginan impulsif untuk mengoleksi barang-barang lucu, estetik, atau sekadar memenuhi hasrat belanja.

Hanya dengan satu sentuhan jari, semua keinginan bahkan yang tak penting bisa hadir di depan pintu rumah, lengkap dengan kurir paket yang sopan (apalagi kalau ramah dan ganteng bonus tambahan yang bikin ketagihan).

Tak jarang, belanja online menjadi pelarian dari kebosanan, stres, kekosongan, atau tekanan sehari-hari. Banyak orang membeli bukan karena butuh, melainkan karena tergoda diskon, tren sesaat, atau demi merasakan kebahagiaan kecil. Kenyamanan ini membuat siapa saja remaja, pekerja kantoran, hingga ibu rumah tangga mudah terseret dalam euforia belanja. Saat ini, remaja menjadi kelompok paling aktif: perempuan sibuk mencari OOTD dan makeup, sementara laki-laki berburu aksesori modifikasi motor.

Aplikasi belanja sejatinya tidak berbahaya. Namun, tanpa sadar, kita bisa kehilangan kendali dan membiarkan hasrat belanja mengambil alih. Karena itu, penting untuk membangun kesadaran dan pengendalian diri. Belanja online boleh saja asal tetap sadar, terukur, dan tidak berlebihan. Pada akhirnya, bukan diskonnya yang salah, tetapi diri kita yang harus bisa membedakan mana kebutuhan dan mana sekadar keinginan.

Penulis : Sevi Ana Hesti Mustika

Editor : Triawulansari

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini