Di era digital yang serba cepat ini, media sosial telah menjadi panggung utama kehidupan banyak orang, terutama remaja. Kita semua pernah terpaku pada layar, terpukau oleh deretan foto penuh senyum, kutipan motivasi, dan video yang seolah menampilkan kebahagiaan tanpa cela. Namun di balik kilau itu, ada satu tema yang semakin sering muncul mental health, atau kesehatan mental.
Tak sedikit orang yang mulai berani membuka cerita tentang kecemasan, overthinking, burnout, bahkan depresi. Postingan tentang self-care, healing, dan mental health awareness membanjiri linimasa. Sayangnya, popularitas tema ini kerap disalahpahami, seakan-akan kesehatan mental hanyalah tren yang diikuti supaya terlihat relevan atau “woke.”
Padahal, realitasnya jauh lebih dalam dan serius. Remaja masa kini hidup di tengah tekanan yang tak hanya datang dari sekolah atau keluarga, tetapi juga dari dunia maya. Standar kebahagiaan yang dipamerkan di media sosial menciptakan ilusi bahwa semua orang harus selalu ceria dan sukses. Saat kenyataan tidak seindah itu, perasaan gagal pun muncul, tanpa disadari.
Data menunjukkan sekitar 15,5 juta remaja Indonesia mengalami gangguan kesehatan mental. Ini bukan angka kecil, bukan pula masalah sepele. Media sosial memang bisa menjadi ruang berbagi, tempat seseorang menemukan keberanian untuk berkata, “Aku tidak baik-baik saja.” Sayangnya, keberanian ini kerap dianggap drama atau sekadar cari perhatian.
Respon sinis semacam ini hanya membuat luka yang sudah perih semakin dalam. Banyak orang jadi takut jujur pada diri sendiri, apalagi pada orang lain. Padahal, mengakui bahwa kita lelah atau terluka adalah langkah pertama menuju pemulihan.
Mental health bukan tema musiman yang akan lenyap ketika tak lagi viral. Ini adalah kenyataan hidup yang dihadapi banyak orang setiap hari. Ketika seseorang menuliskan unek-uneknya di media sosial, bukan berarti ia ikut-ikutan. Bisa jadi itu adalah satu-satunya cara mereka bersuara setelah sekian lama bungkam.
Sudah waktunya kita berhenti meremehkan perasaan orang lain. Tidak semua luka tampak di permukaan. Tidak semua orang mampu meminta tolong dengan lantang. Kadang, satu postingan adalah jeritan paling jujur dari hati yang hampir menyerah.
Alih-alih menghakimi, mari belajar mendengarkan. Alih-alih mencibir, mari hadir dan memberi ruang aman. Karena di balik unggahan yang tampak sempurna, mungkin ada jiwa yang sedang berjuang mati-matian hanya untuk bertahan.
Penulis :Alifannisa Farihah/PBSI 24
Editor :Triawulansari
