Siapa sih yang tidak tahu meme viral “Tung Tung Tung Sahur”. Tung tung tung sahur adalah sebuah meme anomali yang mulai viral sejak bulan Ramadhan Februari 2025 lalu yang hingga saat ini masih begitu dikenal oleh masyarakat Indonsesia bahkan mulai merambah ke negara lain. Meme tung tung tung sahur mulai banyak dikenal di berbagai media sosial baik tiktok, instagram, youtube dan lainnya, meme ini berasal dari tradisi membangunkan sahur di desa – desa yang berada di Indonesia. Biasanya pada bulan Ramadhan banyak orang akan berkeliling membangunkan warga lainnya untuk sahur sambil memukul kentongan dan berteriak “sahur, sahur, sahur”.
Dalam meme ini, “kentongan” merupakan ikon dari tung tung tung sahur dan kata “sahur” berarti kegiatan makan dan minum sebelum terbit fajar atau subuh yang dilakukan oleh umat Islam sebelum mulai berpuasa saat bulan Ramadan berlangsung.
Meme ini sangat populer terutama di kalangan anak – anak, bahkan belakangan ini terdapat beberapa akun tiktok yang memposting seorang anak yang membawa boneka tung tung tung sahur dan mampu menyebutkan beberapa jenis anomali yang turut muncul bersama karakter tung tung tung sahur. Pada bulan April ada postingan di akun tiktok K-POP Idol bernama RIIZE (@riize_official) turut memposting tren ini dengan dance dan iringan khas tung tung tung sahur.
Dengan kemunculan meme ini banyak sekali tren dengan tema serupa yang muncul mengikutinya. Namun dibalik suksesnya tren lokal yang kini mendunia, terdapat pula dampak positif dan negatif yang muncul.
Hal positif yang dapat diambil dari adanya tren tung tung tung sahur adalah tren ini mampu mengenalkan budaya Indonesia dalam membangunkan sahur menggunakan kentongan, selain itu tren ini juga membuktikan akan adanya kepedulian tradisi oleh generasi muda dan mendorong mereka untuk menciptakan ide kreatif dengan memanfaatkan media digital. Sedangkan hal negatif yang diwaspadai adalah tren tung tung tung sahur dapat menyebabkan perubahan makna yang terkandung dalam tradisi tersebut, di mana memungkinkan warga negara lain hanya akan fokus pada tren viralnya daripada adat dan budaya yang sebenarnya.
Penulis : Imtyaz Yoshita Rozzaq / PGSD 2023
Editor : Fitria Marfuatin
