Tagar #SaveRajaAmpat saat ini menjadi trending topik di berbagai media sosial, yang dimana gerakan ini muncul ketika vidio viral seorang ativis Greenpeace dan beberapa anak muda asal Raja Ampat menggelar aksi demonstrasi di depan Wakil Menteri Luar Negeri, sehingga memicu reaksi publik yang tak terduga.
Raja Ampat sendiri terletak di pulau timur papua barat daya, yang dikenal sebagai salah satu surga terakhir di bumi. Terdapat berbagai keindahan alam, kekayaan hayati dan identitas bangsa yang tak ternilai harganya. Namun kini, keindahan alam tersebut terancam hancur oleh keserakahan manusia.
Aktivitas tambang bukan sekedar membuka lahan ,Namum juga membawa kerusakan permanen ,yakni hutan habis dibabat, tanah dikeruk, dan ekosistem yang telah terbentuk ribuan tahun hilang dalam hitungan bulan.
Ironisnya lagi , nikel yang diambil untuk mendukung teknologi hijau seperti baterai kendaraan listrik, justru menghancurkan ekosistem itu sendiri. Alih-alih menjadi solusi bagi masa depan berkelanjutan, industri ini menjadi paradoks yang menyakitkan, dengan mengorbankan surga untuk menyelamatkan dunia.
Gerakan tagar #SaveRajaAmpat bukan sekedar kata-kata, tetapi ini merupakan panggilan nurani kita untuk melindungi keindahan alam yang ada dinegara kita sendiri. Pemerintah harus segera menghentikan seluruh aktivitas yang merusak alam Raja Ampat. Wilayah ini tidak hanya penting bagi pariwisata, tetapi juga bagi masa depan kita. Investasi tidak boleh dibenarkan jika harus dibayar dengan kehancuran alam dan penderitaan masyarakat adat.
Raja Ampat bukan milik investor, melaikan milik kita milik Negara Indonesia. Jika kita gagal menjaga keindahan alam untuk saat ini . Maka generasi kedepan tidak akan tau betapa indahnya Raja Ampat surga dunia.
Penulis : Aurel Lia Dwi Rahma.
Editor : Nadianaf
