Setiap orang tentunya pernah melewati jalan yang tidak baik kondisinya. Baik saat pergi ke kampus maupun bekerja. Sayangnya, keadaan jalan yang berlubang seakan menjadi hal yang umum di banyak tempat di Indonesia, terutama di Tuban.
Padahal, jalan merupakan bagian fundamental dari kegiatan sehari-hari masyarakat. Jika jalan dalam kondisi buruk, berbagai hal akan terdampak. Akses menjadi lebih lambat, biaya perbaikan kendaraan jadi meningkat, dan yang paling ekstrem, bisa berakibat pada kecelakaan. Yang membuat heran, mengapa jalan berlubang sering dibiarkan begitu saja? Beberapa di antaranya sudah berbulan-bulan dalam kondisi rusak, namun belum juga diperbaiki.
Tanpa adanya keluhan dari warga atau viral di media sosial, mungkin tidak akan ada tindakan sama sekali. Apakah kita harus menunggu sampai ada korban baru pihak pemerintah mau bertindak.
Perhatikanlah jalan-jalan di sekitar kita. Bahkan di jalan-jalan utama, lubang sering ditemukan, apalagi di jalan-jalan di desa atau batas antar desa dan kecamatan. Sering kali, lubangnya bukan hanya satu atau dua. Ada yang kecil, namun ada juga yang sangat dalam dan berbahaya. Ketika hujan, lubang-lubang ini terisi air, dan banyak pengendara motor yang menjadi korban karena terjebak di dalamnya.
Saya sendiri sering melalui jalan yang rusak saat menuju kampus. Mulanya hanya ada satu atau dua lubang kecil, tetapi karena dibiarkan, sekarang jumlahnya semakin banyak dan semakin dalam. Kadang saya harus sangat berhati-hati mengendarai motor, takut velg saya penyok atau bahkan terjatuh. Dan saya pernah terjatuh dan motor saya mengalami kerusakan cukup parah karena terjatuh ke dalam lubang besar yang tidak terlihat. Permasalahan ini bukanlah hal baru. Ini adalah isu lama yang terus-menerus berulang. Setiap tahun, laporan tentang jalan yang rusak selalu ada.
Namun, entah mengapa, proses perbaikannya sangat lambat. Sering kali hanya ditambal secara seadanya, menggunakan kerikil yang dalam beberapa hari hilang oleh hujan atau diinjak oleh kendaraan berat. Tidak ada pemeliharaan jangka panjang, apalagi peningkatan kualitas jalan yang dilakukan. Terdapat juga cerita di beberapa lokasi, di mana warga secara bergotong royong memperbaiki jalan mereka sendiri. Mereka membeli semen, pasir, bahkan menyewa pekerja.
Saya menghargai kepedulian mereka, tetapi seharusnya ini bukan beban masyarakat. Ini adalah tugas pemerintah. Kita sudah membayar pajak, sudah memilih wakil rakyat, dan mereka memiliki anggaran. Namun jika jalan yang rusak saja tidak bisa diperbaiki dengan baik, lantas ke mana arah pembangunan sebenarnya, Terkadang terasa bahwa pemerintah baru serius ketika ada kepentingan politik. Menjelang pemilu, tiba-tiba jalan yang rusak langsung diaspal dengan baik.
Dalam semalam, bisa berubah menjadi seperti baru. Ini menunjukkan bahwa sebenarnya hal ini bisa dilakukan, asalkan ada niat dan kemauan. kepentingan. Namun, mengapa perhatian baru muncul menjelang pemilu, Bagaimana dengan kebutuhan masyarakat sehari-hari.
Perkara jalan yang berlubang mungkin terdengar sepele bagi sebagian orang. Namun, bagi warga yang setiap hari melewati jalan tersebut, hal ini menyangkut hidup dan mati. Ini terkait dengan keselamatan, waktu, dan keadilan. Kami tidak meminta adanya jalan tol di tiap desa, tetapi akses jalan yang layak, aman, dan nyaman merupakan hak dasar rakyat. Pemerintah perlu mulai memperhatikan dan merespons kebutuhan masyarakat yang sebenarnya.
Jangan tunggu sampai masalah menjadi viral untuk bertindak. Kembangkan sistem perbaikan jalan yang cepat, akurat, dan berkelanjutan. Libatkan masyarakat dalam proses pengawasan, buka data anggaran secara transparan, dan yang terpenting, bertanggung jawab atas keselamatan pengendara. Kerusakan jalan bukan sekadar lubang di aspal. Namun, ini adalah celah besar dalam kepercayaan masyarakat kepada pemerintah. Sudah saatnya kita menutupi celah itu – tidak hanya dengan aspal, tapi juga dengan niat baik dan tindakan konkret.
Penulis : Abdul Rozaq
Editor : Utri Rahmawati
