Di zaman yang penuh dengan kemodernan ini, platform media sosial telah menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari. Salah satu aplikasi yang masih populer adalah Facebook, yang memberikan kesempatan bagi penggunanya untuk memposting kegiatan harian melalui fitur cerita, berbagi foto atau video, bertukar informasi, serta membuat grup atau komunitas untuk membangun hubungan dan berbagi minat.
Baru-baru ini, media sosial mencuat dengan adanya sebuah grup di Facebook yang menyimpang dari tujuan komunitas yang seharusnya. Grup ini bernama “Fantasi Sedarah”, dan terungkap pada 14 Mei 2025. Konten yang terdapat dalam grup ini berupa foto dan tulisan yang secara jelas menunjukkan ketertarikan seksual terhadap anggota keluarga langsung, seperti anak, saudara, ibu, bahkan mertua. Dalam penyelidikan awal, terungkap ada enam orang yang menjadi pelaku utama di balik pendirian grup ini, yang telah memiliki sekitar 32. 000 anggota sebelum akhirnya diblokir oleh Facebook pada 15 Mei 2025, hanya sehari setelah grup ini teridentifikasi.
Tiada dua orang yang memiliki imajinasi seksual yang sama. Namun, jika fantasi tersebut melibatkan hubungan sedarah, itu bukan sekadar soal pilihan pribadi. Kita tidak dapat menganggapnya remeh dengan alasan “ini hanya fantasi sementara,” karena jenis fantasi itu dapat memengaruhi pandangan seseorang terhadap keluarganya. Jika dibiarkan, perilaku menyimpang bisa muncul dan menghadirkan ancaman baik secara sosial maupun moral.
Kita tidak seharusnya langsung menghakimi seseorang berdasarkan pemikiran pribadinya. Namun, saat isi pikiran tersebut dirilis di ruang publik dan dikonsumsi secara luas, terlebih jika berisi penyimpangan moral dan hukum, hal tersebut menjadi masalah kita bersama. Grup seperti “Fantasi Sedarah” tidak hanya menyebar konten yang tidak pantas, tetapi juga menciptakan ruang untuk normalisasi tingkah laku yang jelas bertentangan dengan nilai-nilai sosial, hukum, serta kesehatan psikologis dan biologis manusia.
Hak asasi memang memberikan kebebasan untuk mengekspresikan diri, tetapi kebebasan itu memiliki batas. Ketika konten yang menyimpang disebarluaskan di ranah publik, hal itu tidak lagi bersifat pribadi, melainkan menjadi isu sosial yang memiliki dampak luas. Facebook sebagai platform media sosial juga tidak dapat selalu beralasan “kami tidak memeriksa secara manual”. Mereka memiliki teknologi kecerdasan buatan dan tim pengawas yang mampu menyaring serta menanggapi konten yang berbahaya atau menyimpang.
Pengguna media sosial seharusnya tidak bersikap pasif. Kita memiliki pilihan untuk melaporkan atau memblokir akun dan grup yang melanggar norma. Ini bukan soal merasa lebih baik atau benar, melainkan tentang kepedulian terhadap masyarakat secara keseluruhan, terutama anak-anak dan remaja yang masih rentan dan mudah terpengaruh. Mereka belum mampu memilah informasi dengan baik, dan bisa saja tanpa sadar terpapar atau bahkan terlibat dalam grup-grup seperti itu. Jika hal ini terjadi, dampaknya bisa sangat parah, baik dari sisi psikologis maupun perilaku.
Sering kali, kita mendengar argumen seperti, “Itu hak mereka, itu urusan mereka, kita tidak boleh campur tangan. ” Namun, jika sesuatu yang dianggap sebagai “urusan pribadi” tersebut dibagikan secara publik dan berpotensi berdampak buruk, maka itu bukan lagi hak personal. Ketika penyimpangan itu menyebar dan tidak ada yang mengambil tindakan, maka kita secara tidak langsung membiarkan hal tersebut berkembang dan menjadi sesuatu yang dianggap biasa.
Dunia digital adalah bagian daripada kenyataan dan bukan suatu yang terpisah. Apa yang kita lihat, baca, tonton, dan bicarakan di media sosial sangat memengaruhi cara kita berpikir dan berperilaku dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, kita harus bijak dan kritis sebagai pengguna media sosial. Penting bagi kita untuk mengenali nilai-nilai yang perlu dilindungi: moralitas masyarakat, perlindungan anak-anak, dan prinsip-prinsip keluarga yang merupakan dasar kehidupan manusia.
Kebebasan untuk berimajinasi tidak boleh digunakan sebagai pembenaran untuk tindakan yang menyimpang. Ketika pemikiran yang menyimpang mulai merusak hubungan dalam keluarga, maka yang terkena dampaknya bukan hanya satu orang, tetapi seluruh struktur yang menjadi landasan kehidupan manusia. Jadi, mari kita lebih hati-hati dan sadar akan apa yang kita lihat dan lakukan di media sosial. Kita tidak boleh membiarkan perilaku menyimpang berkembang hanya karena kita memilih untuk diam.
Penulis : Iin Duwi Novita Sari / Pgsd 2023E
Penulis : Utri Rahmawati
