Ancaman Banjir Tahunan Di Tuban Rugikan Ekomoni Dan Krisis Sosial Bagi Masyarakat

0
210
doc./pinterest.com/

Fenomena Banjir di Kabupaten Tuban saat ini menjadi sorotan serius, terutama melanda di musim kemarau. Kejadian ini bukan lagi hanya sekadar bencana alam musiman, melainkan sudah berubah menjadi bencana tahunan, bahkan menyasar di desa-desa pelosok seperti Soko, Rengel, dan sebagian wilayah Montong, yang sebelumnya tidak akrab dengan bencana banjir, namun apa yang terjadi? akhir – akhir ini menjadi daerah rawan akan bencana banjir. Ironinya, banjir di kawasan desa-desa tersebut seolah cerminan nyata akan ketimpangan pembangunan dan minimnya perhatian media serta pemerintah terhadap wilayah – wilayah yang rentan terjadi bencana.

Dampak yang ditimbulkan oleh banjir di wilayah Tuban, khususnya di daerah pelosok seperti Soko, Rengel, dan sebagian Montong, sangat signifikan terhadap aspek sosial dan ekonomi masyarakat. Sektor pertanian menjadi salah satu yang paling terpukul. Banyak petani di wilayah tersebut mengalami gagal panen karena sawah mereka tergenang air selama berhari-hari, memusnahkan harapan akan penghasilan. Tak hanya itu, para pedagang kecil di pasar pun kehilangan mata pencarian karena akses jalan menuju pasar terendam air, menyebabkan aktivitas ekonomi lumpuh total.

Tak hanya sekadar kerugian materi, bencana banjir juga merugikan kehidupan sosial masyarakat. Seperti daerah di Kecamatan Rengel terdapat delapan sekolah dasar terpaksa diliburkan sementara. Hal ini berarti ada ratusan anak-anak tidak dapat masuk sekolah, mengganggu proses belajar mengajar dan mengancam masa depan pendidikan mereka. Terputusnya akses dan kegiatan sosial lainnya tentu menciptakan krisis dalam tatanan kehidupan bermasyarakat yang normal.

Penyebab utama bencana banjir masih melanda Tuban adalah tingginya curah hujan. Namun, masalah utamanya tidak hanya terletak pada intensitas hujan itu sendiri, melainkan pada serangkaian faktor yang memperparah keadaan. Rusaknya daerah tangkapan air, minimnya ruang terbuka hijau, dan alih fungsi lahan secara besar-besaran menjadi pemicu utama. Ditambah lagi, kebiasaan masyarakat yang membuang sampah sembarangan di sungai turut memperparah kondisi. Aliran sungai yang dangkal dan penuh sedimen semakin menambah risiko terjadinya banjir yang lebih parah.

Oleh karena itu, dengan berbagai dampak sosial dan ekonomi yang ditimbulkan bencana banjir, sudah saatnya kita semua mengambil langkah nyata dan kolektif untuk mencegah terjadinya bencana ini di masa depan. Pemerintah memiliki peran krusial dalam koordinasi dengan dinas terkait untuk memperbaiki saluran air dan membersihkan sungai yang tersumbat hal tersebut merupakan langkah awal yang mutlak.

Namun, peran pemerintah saja tidak cukup dalam menangani bencana ini. Keterlibatan masyarakat juga sangat penting dan tidak bisa dikesampingkan. Kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan, seperti tidak membuang sampah sembarangan di sungai atau selokan, wajib ditanamkan dan diterapkan secara masif pada masyarakat. Selain itu, program reboisasi dan penghijauan kembali daerah tangkapan air harus digalakkan dan didukung penuh oleh semua pihak. Dengan upaya bersama yang sinergis antara pemerintah dan masyarakat, harapannya bencana banjir dapat diminimalisasi secara signifikan dimasa mendatang, sehingga masyarakat Tuban dapat hidup lebih aman dan sejahtera.

Penulis : Alif Ismi Nur Aisyah

Editor   : Siti Mahmudah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini