Peringatan 17 Agustus bukan sekadar tanggal merah dalam kalender, melainkan sebuah momentum di mana seluruh negeri dipenuhi semarak kebangsaan. Setiap tahun, jalan-jalan di berbagai kota dan desa dipenuhi oleh ratusan bendera Merah Putih yang berkibar dengan gagahnya, disamping itu juga banyak terpasang umbul umbul dan berbagai hiasan lainnya. Semarak ini mencerminkan kebanggaan kolektif terhadap kemerdekaan yang telah diraih, sebuah perayaan yang tidak hanya dirayakan oleh satu kelompok, tetapi oleh seluruh bangsa Indonesia.
Satu aspek yang mencolok dari semarak 17 Agustus adalah upacara bendera di berbagai tingkatan, dari tingkat sekolah hingga tingkat nasional. Ribuan pelajar dan masyarakat berhimpun untuk mengibarkan bendera sambil bernyanyi lagu kebangsaan. Suasana haru dan semangat patriotisme bisa dirasakan di setiap upacara tersebut. Bendera Merah Putih yang berkibar tinggi di langit adalah simbol kebersamaan dan persatuan, mengingatkan setiap warga negara akan tanggungjawabnya terhadap negara.
Selain itu, Indonesia mengadakan berbagai kegiatan untuk memperingati momen bersejarah tersebut. Salah satu bentuk perayaan yang sangat dirayakan adalah lomba 17 Agustus, yang melibatkan berbagai kalangan salah satunya partisipasi siswa sekolah dasar (SD). Lomba ini tidak hanya menjadi sarana hiburan semata, tetapi juga merupakan upaya untuk membentuk karakter, meningkatkan rasa cinta tanah air, dan melibatkan generasi muda dalam memahami arti kemerdekaan.
Seperti hal nya yang dilakukan oleh Remaja Masjid Al-Muhsinin Desa Mandirejo. Remaja masjid Al-Muhsinin setiap tahunnya mengadakan lomba 17 agustusan yang diberi nama lomba pitulasan. Lomba tersebut baru berjalan 2 tahun ini di bawah pimpinan Arda Wijaya selaku ketua remaja masjid. Dan ini adalah tahun ke 2 remaja masjid mengadakan lomba tersebut. Untuk 2 tahun ini lomba tersebut berfokus pada siswa yang masih duduk di bangku sekolah dasar saja.
Satu hari sebelumnya, seluruh panitia menyiapkan segala peralatan yang dibutuhkan. Saat sore hari seluruh panitia membersihkan halaman yang akan digunakan, pasalnya halaman yang akan digunakan lomba baru selesai proses pembangunan yang mana di sana masih terdapat pasir-pasir sisa pembangunan. Panitia juga membeli barang barang untuk doorprize dan menempeli berdasarkan kategori lomba. Lomba semarak pitulasan yang diadakan remaja masjid, meliputi lomba pindah gelas, makan kerupuk, jalan batu, sepak bola menggunakan corong, cantol erek/besek, dan balap karung.
Persiapan selanjutnya yaitu perangkaian bendera kertas untuk menghiasi tempat perlombaan. Panitia mengikatkan tali ke seluruh kerupuk untuk persiapan lomba makan kerupuk, mereka juga menyiapkan balon dan gelas untuk lomba pindah gelas. Bola dan corong untuk sepak bola corong. Besek yang dikaitkan dengan tali rafia membentuk seperti topi dan juga pengaitnya untuk lomba cantol erek/besek, menyiapkan karung dan yang terakhir menyiapkan bata untuk menjadi tumpuan dalam lomba pindah batu. Setelah peralatan yang akan digunkan sudah disiapkan, mereka menuju ke halaman untuk memasak rangkaian bendera yang telah dirangkai.
Acara dilaksanakan pada pukul 07.00 WIB. Peserta lomba berbondong bondong menuju ke tempat lomba atau lebih tepatnya di halaman atau parkiran masjid. Bagi anak yang belum mendaftar bergegas mendaftar ke panitia yang telah bertugas. Selanjutnya acara dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia raya, disusul dengan sambutan oleh ketua pelaksana lomba pitulasan yang diadakan oleh remaja masjid Al-Muhsinin serta pembukaan lomba.
Setelah dibuka oleh ketua pelaksana, maka dimulailah lomba pitulasan tersebut. Lomba pertama yaitu pindah gelas. Peminat dari lomba ini cukup banyak dari kelas 3,4,5, hingga kelas 6. Lomba tersebut dilombakan sampai menemukan 3 pemenang yang mana diambil dari setiap ronde berdasarkan umur atau berdasarkan kelas anak-anak tersebut. Lomba kedua adalah sepak bola corong, seperti lomba pertama lomba ini dicari 3 pemenang yang mana nanti akan di lombakan lagi untuk menentukan siapakah yang berhak mendapatkan juara 1, 2, hingga 3.
Lomba ketiga yaitu jalan batu. Bagi yang belum mengetahui apa itu lomba batu, lomba jalan batu adalah lomba yang di mana peserta menjadikan batu sebagai tumpuannya lalu batu dipindahkan kedepan hingga mencapai garis finish yang telah ditentukan. Sama seperti lomba sebelumnya lomba ini juga diambil 3 pemenang.
Tiga lomba selanjutnya adalah lomba yang paling dinanti oleh para peserta, yang mana lomba itu adalah lomba balap karung, cantol erek, dan ditutup dengan lomba makan kerupuk. Tiga lomba ini yang dimainkan pertama yaitu lomba balap karung. Para peserta sangat berantuias dalam lomba ini sampai ada beberapa peserta yang jatuh karena tergesa-gesa untuk sampai ke finish. Disusul lomba cantol erek, seluruh peserta serta panitia dibuat tertawa terbahak-bahak dalam lomba yang satu ini karena peserta yang cukup kesusahan menyantolkan erek/besek ke dalam cantolan yang telah disediakan panitia ditambahkan dengan sound “kiw kiw kuggeruk empuk jeru” membuat para audiens tidak dapat menahan tawaanya. Disusul lomba yang terakhir adalah lomba makan kerupuk.
Setelah lomba tersebut diambil 3 pemenang di setiap kategori lombanya dilanjutkan dengan penentuan siapa yang berhak mendapatkan juara. Ada beberapa peserta yang bahkan mendapatkan 2 juara sekaligus yang mana dia mendapatkan 2 hadiah dengan kategori juara 1.
Dengan diadakannya lomba pitulasan yang diadakan oleh remaja masjid untuk siswa sekolah dasar menunjukan upaya memperkuat semangat nasionalisme dan patriotisme di kalangan generasi muda. Selain itu kegiatan tersebut dapat menjadikan sarana positif untuk membangun kebersamaan, rasa persatuan, dan meningkatkan pemahaman sejak dini tentang sejarah kemerdekaan Indonesia.
Penulis adalah Dania Ramadhani, mahasiswa program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar angkatan 2023, FKIP-Universitas PGRI Ronggolawe Tuban dan opini ini merupakan tugas mata kuliah yang diampu oleh Ibu Yunita Suryani, M. Pd.
