Pengaruh Game Online terhadap Prestasi Belajar Siswa

0
194

 

(Cr: Youtube Toha Tohaeni)

Saat ini gadget tergolong mudah didapatkan
oleh siapa saja termasuk anak-anak. Ketertarikan orang pada gadget atau gawai
pun karena hal yang beragam, mulai dari untuk urusan bisnis Pendidikan, sosial
media, hiburan dan game. Game sudah wajib ada dalam aplikasi gadget baik yang
online maupun offline. Game offline bisa dimainkan kapan saja tanpa harus
terhubung ke internet. Sedangkan game online saat dimainkan harus menggunakan
jaringan internet.

Mengapa orang tertarik memainkan game online
dibandingkan game offline. Terkadang ada game online yang konsepnya sama dengan
offline, namun ada lebih banyak keseruan di versi onlinenya. Misalnya game
online lebih banyak level, aksesoris, lebih banyak lawan main dan lainnya. Game
online adalah permainan yang biasanya digunakan adalah jaringan internet dan
yang sejenisnya serta selalu menggunakan teknologi yang ada saat ini, seperti
modem dan koneksi kabel. Arti game online dalam bahasa Indonesia adalah
permainan daring.

Biasanya permainan daring disediakan sebagai
tambahan layanan dari perusahaan penyedia jasa online, atau dapat diakses
langsung melalui sistem yang disediakan dari perusahaan yang menyediakan
permainan tersebut. Sebuah game online bisa dimainkan secara bersamaan dengan
menggunakan computer yang terhubung ke dalam sebuah jaringan tertentu.

Pada kurun waktu kurang lebih 7 tahun
belakangan ini, game online mulai meningkat peminatnya. Salah satunya adalah
para siswa mulai dari anak SD sampai SMK kebanyakan semua memainkan game online
ini. Dari sekian banyaknya game online yang ada, Mobile Legends, PUBG Mobile,
dan Free Fire adalah game yang saat ini peminatnya sangat banyak dikalangan
para siswa. Apabila mereka memiliki waktu luang, baik di sekolah ataupun di
rumah mereka selalu memainkan game online ini. Hal ini yang menjadikan alasan
mengapa game online sangat berpengaruh bagi prestasi belajar siswa.

Terutama untuk siswa SD zaman sekarang ini
yang masih di bawah umur. Mereka bukan memanfaatkan waktu luang mereka untuk
belajar demi masa depan mereka atau memainkan mainan tradisional, namun lebih
memilih berkumpul bersama teman-teman mereka untuk mabar (main bareng) game
online di suatu tempat. Biasanya mereka selalu memanfaatkan fasilitas-fasilitas
WiFi, kadang di warkop, di rumah teman mereka yang memiliki WiFi, bahkan di
balai desa yang saat ini di beberapa daerah memiliki akses WiFi. Berbeda dengan
zaman dahulu sebelum mengenal gadget dan game online ini. Zaman dulu berkumpul
bukan untuk main game online, namun untuk bermain sepak bola di lapangan, main
layang-layang dan lain-lain permainan tradisional.

Sebenarnya dengan memanfaatkan perkembangan
zaman saat ini, tegnologi yang semakin berkembang pesat juga ada dampak
positifnya, yaitu generasi saat ini tidak ketinggalan zaman. Contoh dampak
positif dari mereka memainkan game online ini adalah mereka sering berkumpul
dengan teman-teman mereka, juga bisa mengenal dunia luar. Selain itu, bisa
untuk melatih otak anak yaitu dengan menyusun strategi yang dapat berpengaruh
positif bagi otak anak. Untuk menghibur diri mereka apabila sedang bosan,
menghilangkan stress, melatih komunikasi dengan orang lain, dan masih banyak
lagi.

Namun dampak positif di atas dapat berbanding
terbalik menjadi dampak yang negatif jika anak salah dalam menafsirkan hal
positif tersebut. Contohnya sering berkumpul dengan teman-teman mereka, tapi
lupa dengan waktu. Biasanya kalau sudah terbawa suasana senang dengan hal
tersebut, anak akan lupa dengan waktu. Kadang bisa kumpul hingga larut malam,
padahal besoknya harus sekolah dan mereka juga masih dibawah umur yang dapat
berpengaruh bagi kesehatan anak. Apalagi Kesehatan bagi mata anak. Apabila
sering melihat hp berjam-jam tidak berhenti-henti, maka akan berpengaruh buruk
bagi kesehatan mata anak.

Contoh lain dampak negatifnya adalah anak
sering kali meniru hal-hal yang ada di dalam game online. Mobile Legends, PUBG
Mobile, dan Free Fire adalah game yang termasuk dalam game dengan kekerasan,
yaitu perang. Anak sering kali menirukan hal-hal di dalam game tersebut ke
dalam dunia nyata. Untuk menghibur diri dan menghilangkan stress ini kadang
juga berbanding terbalik apabila anak membawa perasaannya ke dalam game. Anak
selalu ingin menang apabila memainkan sebuah game, dan apabila kalah mereka
akan emosi, akan menjadi lebih stress dan tidak dapat menghibur diri mereka
lagi. Bahkan sering kali terjadi anak membanting hp
nya karena kalah dalam game.

Kemudian melatih komunikasi dengan orang lain
juga berbahaya bagi anak. Semua perkataan di dalam game, baik dan buruk akan
mereka tirukan. Yang bahaya adalah apabila mereka mendapatkan
perkataan-perkataan yang buruk di dalam game. Contoh perkataan yang kasar
seperti “Anj*ng, Janc*k, Bab*, Bangs*t” dan lain sebagainya itu akan mudah
sekali bagi anak untuk menirukannya. Ini juga berpengaruh bagi akhlak anak.

Kecanduan game online ini juga sangat
berpengaruh bagi prestasi belajar anak. Mereka akan malas untuk belajar karena
labih senang dengan ngegame. Keseruan-keseruan yang ada di dalam game tersebut
menjadikan anak tidak mau lepas dari game tersebut sampai lupa atau bahkan
tidak mau lagi untuk belajar atau mengingat materi-materi pembelajaran mereka.

Oleh sebab itu, orang tua harus selalu
mengawasi an
aknya
apalagi kalau masih duduk di bangku sekolah dasar. Pergaulan anak akan
berpengaruh untuk kedepannya. Apabila anak bisa membagi waktunya untuk main
game, belajar, dan juga olahraga itu akan sangat baik bagi anak. Contoh saja
bisa main game online sewajarnya saja, setelah itu bisa bermain permainan
lainnya seperti sepak bola, atau olahraga lainnya yang menyehatkan. Bukan untuk
menghabiskan waktu untuk bermain game online saja. Di sekolah juga anak
memaksimalkan waktunya untuk belajar.

Solusinya adalah biarkan saja anak menyukai
kesukaannya. Apabila anak menyukai game itu wajar-wajar saja, karena yang ada
dipikiran anak seusia anak SD itu adalah bermain. Namun harus tetap diawasi dan
dipantau. Kalau disuruh belajar terus menerus anak juga bisa bosan. Jadi
biarkan anak melakukan hal yang mereka sukai, jangan dikekang. Yang penting
anak bisa membagi waktunya dengan belajar dan bermain, tak lepas dari pantauan
orang tua.


Penulis adalah mahasiswa
Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia,
a
ngkatan 2020, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas
PGRI Ronggolawe Tuban.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini