Media Sosial dan Krisis Empati

0
252
https://images.app.goo.gl/vvuoW1MmQpJhZYPE7

Media sosial telah menjadi bagian penting dalam kehidupan era sekarang. Platfrom ini  menghubungkan orang dari berbagai belahan dunia, memberikan kesempatan kepada setiap orang untuk bersuara, mengekspresikan pendapatnya dan membuka ruang diskusi. Namun, di balik gemerlapnya dunia maya, ada realitas yang diam-diam menggerogoti nilai-nilai kemanusiaan: hilangnya empati di ruang digital.

Sering kali, ketika seseorang mendapat musibah, bukankah menunjukan simpati, tak sedikit warganet malah memanfaatkan keadaan, menyalahkan korban atau menggunakan tragedi sebagai bahan lelucon. Begitu pula dengan kasus perundungan siber-komentar jahat dan sindiran visual yang menghina bisaa menjadi viral dalam hitungan jam. Reaksi yang muncul pun sering kali bukan empati, melainkan komentar pedas, cibiran, bahkan ejekan tanpa ada yang peduli pada dampak psikologis korban.

Apa yang terjadi dengan kita?

Media sosial membuat interaksi terasa tidak langsung. Tanpa tatap muka, orang lebih mudah melontarkan kata-kata kasar tanpa menyadari dampaknya. Jarak emosioanal ini menciptakan jarak moral. Kita lupa bahwa dibalik foto, unggahan, atau video, ada manusia sungguhan dengan perasaan dan luka yang mungkin tak terlihat.

Lebih dari itu, algoritma media sosial juga berperan. Konten yang memamcing emosi ekstrem-amarah, kesedihan, sensasi lebih disukai dan disebar luaskan. Akibatnya, empati terkikis. Kita terbiasa melihat kesedihan orang lain sebagai hiburan, bukan sebagai panggilan untuk peduli.

Namun, menyalahkan media sosial saja tidak cukup. Pada akhirnya, kitalah penggunanya. Kita yang memilih untuk mengabadikan atau ikut menyebarkan. Kita yang bisa memutuskan untuk bersikap lebih manusiawi di dalam dunia digital.

Menumbuhkan empati di media sosial bisa dimulai dari hal kecil, berhenti menyebarkan konten yang mengeksploitasi penderitaan. Pikir dua kali sebelum menulis komentar, menguplod foto atau video. Gunakan platfrom kita untuk menyebarkan kebaikan, bukan kebencian atau cacian yang bisa membuat orang lain down dengan apa yang kita sebarkan.

Media sosial adalah cermin. Jika yang kita lihat di dalamnya adalah kekejaman, bisa jadi itu refleksi dari lingkungan kita sendiri. Tapi cermin juga bisa diperbaiki. Dunia maya tidak harus menjadi dunia tanpa rasa, ia bisa menjadi tanpa rasa. Ia bisa menjadi ruang yang lebih hangat, lebih peduli, dan lebih manusiawi asal kita mau.

Di era digital ini, empati justru semakin penting. Jika kita kehilangan itu, maka semua teknologi yang kita banggakan tak ada artinya.

Penulis : Sandrina Dwi Puspita/PBSI/2024

Editor : Amaliya Syafitri

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini