Life After Break Up: Saat Kecerdasan Emosional Menjadi Tameng Dalam Kesehatan Mental

0
186
Doc./Pinterest.com

Life after break up atau istilah lain dari putus cinta, kerap kali menjadi pengalaman emosional yang berat bagi remaja. Sebagian banyak dari mereka, pasti merasakan adanya kehilangan, penolakan, dan rasa sakit emosional yang begitu dalam. Kondisi ini sering memicu berbagai masalah kesehatan mental seperti stres, kecemasan, hingga depresi. Namun, peristiwa ini sering dianggap sepele dalam dinamika hubungan, yang nanti dampaknya dari hal tersebut menjadikan  gejolak batin mengalami keterdesakan secara emosional maupun psikologis. Di tengah situasi ini, kecerdasan emosional memainkan peran penting sebagai tameng yang sehat untuk stabilitas mental remaja.

Kecerdasan emosional dianggap sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat stres pasca putus cinta. Remaja dengan tingkat kecerdasan emosional yang tinggi, cenderung lebih dapat mengatur tingkat emosional dan menemukan cara yang sehat untuk menghadapinya. Mereka tidak menekan atau menyangkal rasa sakit, tetapi mengelola emosi dengan baik dan mengevaluasi diri sendiri untuk perlahan bangkit.

“Life after break up” . hidup setelah putus cinta memang menjadi kesan yang mengenaskan bagi kebanyakan orang terutama pada remaja. Namun, dengan dibekali kecerdasan emosional yang terlatih, perpisahan bisa menjadi pengalaman yang bisa dijadikan evaluasi dan bukan luka mustahil sembuh. Munculnya berbagai motivasi dalam diri remaja yang nantinya menjadi pelajaran bahwa sakit hati adalah bagian dari tumbuh.

Kecerdasan emosional pasca life after break up merupakan kondisi atau keadaan yang menjadi acuan khusus untuk pelindung kesehatan mental, terutama pada remaja. Kecerdasan emosional juga membantu remaja untuk membentuk, mengenali dan memahami dirinya sendiri untuk menjadi lebih baik. Ajang evaluasi diri  menjadi pedoman, bahwa hal yang terjadi dalam hidup merupakan pengalaman. termasuk perpisahan adalah bagian proses pendewasaan diri. Kemampuan untuk memahami diri sendiri dan memahami perasaan orang lain yang nantinya dijadikan pedoman untuk menyaring persoalan yang datang, baik dan buruknya permasalahan yang hadir dari dalam maupun luar diri.

Salah satu bagian tersulit dalam proses pemulihan pasca life after break up adalah memaafkan. Sebagai sikap pendewasaan diri untuk mengatasi hal-hal negative dan perlakuan tidak adil dari orang lain, bukan untuk menyangkal rasa sakit yang dirasakan, tetapi dengan berpikir menggunakan empati terhadap pihak yang telah menyakiti. Sikap ini merupakan bentuk kedewasaan emosional dalam menanggapi perlakuan tidak adil, tanpa menaruh atau membalas rasa dendam.

Akan tetapi, disisi lain perasaan tidak terima atas perlakuan dari orang yang menyakiti kerap kali menghantui dan membuat pihak tersakiti menjadi terpuruk dan terbebani kesehatan mentalnya. Perasaan marah, benci, putus asa, dan kecewa yang meledak-ledak terjadi sesaat setelah mengalami peristiwa yang menyayat dan mengiris hati. Banyak remaja yang mengalami stress berkepanjangan, kecemasan hingga depresi pasca mengalami perpisahan. Tak jarang dari mereka yang memilih untuk mengurung diri ditempat sepi dan selalu menyalahkan diri sendiri, seolah ini terjadi karena kesalahan dari pihak tersakiti. Sesaat bersifat denial dan larut dalam kenangan masa lalu yang pernah dilewati bersama. Hal ini sempat menjadi pemikiran bagi sebagian remaja untuk menyakiti dirinya sendiri. Akan tetapi, menyakiti diri sendiri bukanlah untuk mencari perhatian, melainkan pertanda bahwa seseorang mengalami krisis emosional dan kehilangan cara sehat untuk mengekspresikan dirinya sendiri.

Disinilah peran kecerdasan emosional sangat dibutuhkan, Sebagai daya tahan saat menghadapi masalah dan mampu mengendalikan emosi. Memotivasi diri sendiri dan mampu mengatur suasana hati saat berhubungan dengan orang lain. Oleh karena itu, kepekaan dan dukungan dari orang-orang terdekat seperti orang tua dan sahabat merupakan hal yang sangat diperlukan. Dukungan yang diberikan harus dilandasi rasa empati, tanpa memberi penilaian yang bisa menyudutkan dari pihak tersakiti. Perlakuan tersebut yang nantinya akan menjadi penompang yang kuat bagi remaja ketika mengalami masa-masa sulit ,serta membantu mereka menyeimbangkan emosional seiring berjalannya waktu.

Pada akhirnya, life after break up bukan hanya tentang kehilangan seseorang, tetapi juga bagaimana seseorang mampu mengelola emosi dengan baik. Kecerdasan emosional yang menjadi pondasi kokoh dalam membantu memahami diri sendiri, mengevaluasi diri sendiri, dan membangun kekuatan mental. Disertai dengan dukungan serta empati dari lingkungan yang positif, remaja dapat menjadikan peristiwa tersebut sebagai pengalaman hidup dan proses pendewasaan di masa depan yang lebih baik.

Penulis : Zetti zalina

Editor : NadiaNaf

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini