Transformasi Budaya Mahasiswa dalam Program MBKM: Menyikapi Tantangan Mental Sekrup

0
272

Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) adalah kebijakan yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) Indonesia untuk memberikan kebebasan otonomi kepada institusi pendidikan dan mahasiswa dalam menjalankan pendidikan. MBKM bertujuan meningkatkan soft skill mahasiswa melalui program seperti Magang Bersertifikat, Studi Independen, Kampus Mengajar, dan lainnya.

Sejak beberapa tahun yang lalu program Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM), di  sambut baik oleh beberapa kalangan akademisi termasuk mahasiswa. Setelah berjalan beberapa tahun, kegiatan ini memperkenalkan gaya pembelajaran yang tidak hanya berfokus pada nilai akademis, tetapi juga pada pengembangan bakat dan minat mahasiswa. Dilansir dari situs resmi Kemendikbudristek sebanyak 32.000 mahasiswa terlibat dalam Kampus Mengajar di 34 provinsi.

Program MSIB menerima lebih dari 98.000 pendaftar untuk program magang bersertifikat  dan studi independen. Sebanyak 36.719 mahasiswa lolos untuk mengikuti program MSIB Angkatan 5, meningkat 40% dari angkatan sebelumnya. Peningkatan ini merupakan kabar baik untuk Indonesia, membantu mencapai cita-cita emas tahun 2045 dengan lebih banyak mahasiswa siap terjun ke dunia kerja. Perlu diingat bahwa angka pengangguran masih tinggi.

Kemendikbudristek merasa bangga dengan keberhasilan yang dicapai, namun tidak semua berjalan lancar tanpa polemik. Program-program baru seringkali menimbulkan permasalahan, seperti konversi SKS, alokasi uang saku, akomodasi, fasilitas, dan sistem pengawasan. Polemik ini sering kali disebabkan oleh Budaya “ganti menteri, ganti kebijakan” menyebabkan ketidakstabilan.

Perlu adanya pembaruan dan penyempurnaan kebijakan lama, bukan mereset dan menciptakan kebijakan baru yang membawa permasalahan baru. Pergantian menteri dan kebijakan, yang membuat kebijakan pendidikan terasa seperti di-reset dan menciptakan permasalahan baru.

Mereka seharusnya fokus pada memperbaiki kebijakan lama dan melakukan pembaruan program yang kurang efektif. Selain memiliki banyak polemik di kalangan para pelajar dan pengajar. Program-program MBKM juga menjadi ancaman tersendiri bagi organisasi kampus seperti Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM).

Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) memberi mahasiswa uang saku bulanan dan sertifikat sebagai insentif. Namun, hal ini dapat menciptakan mentalitas hanya mencari keuntungan daripada semangat belajar yang sejati, konversi nilai agar tidak mengikuti kuliah kerja nyata (KKN) serta sertifikat yang nantinya dapat berguna untuk Curiculum Vitae (CV) di masa depan.

Penurunan minat terhadap organisasi mahasiswa (Ormawa) karena program MBKM. Banyak mahasiswa mengikuti program MBKM lebih karena keuntungan finansial dan administratif, bukan untuk pengembangan diri yang lebih mendalam.

Sebagian mahasiswa menganggap kegiatan organisasi mahasiswa hanya sebagai syarat untuk mendapatkan surat aktif berorganisasi saat mendaftar Beasiswa. Nilai-nilai loyalitas, intergritas, dan semangat dalam mengembangkan sebuah organisasi mulai memudar karena dianggap sia-sia dan tidak menguntungkan secara finansial. Kebijakan baru wajib bagi mahasiswa baru untuk mengikuti kegiatan organisasi sebagai upaya pencegahan, namun banyak yang ikut demi surat penunjang tanpa benar-benar berkomitmen.

Meski beberapa kampus telah menerapkan kebijakan bagi mahasiswa baru wajib mengikuti kegiatan UKM dan Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI) sebagai upaya pencegahan penurunan minat mahasiwa terhadap kegiatan berorganisasi.Banyak mahasiswa hanya aktif sebagai pengurus organisasi untuk SKPI dan surat keterangan aktif berorganisasi. Mereka hilang setelah mendapat yang diinginkan, seperti lenyap di telan bumi.

Upaya yang dilakukan oleh teman-teman dari unit kegiatan mahasiswa belum mampu membawa perubahan signifikan meskipun telah membuat perjanjian agar anggota tetap aktif dalam program.

Mewujudkan Indonesia Emas 2045 memerlukan upaya bersama dari pemerintah, institusi pendidikan, dan mahasiswa untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang mendukung pengembangan soft skill, karakter, dan kesiapan kerja yang seimbang. Indonesia perlu lulusan dengan semangat, loyalitas, dan integritas untuk sukses, tidak hanya bergantung pada program kurang matang. dan pada akhirnya bibit-bibit emas tersebut hanya akan berakhir menjadi sekrup-sekrup di perusahaan.

Warisan mental penjajah masih kuat di generasi muda, diperparah oleh program-program yang kurang matang dan terbengkalai saat pergantian kepemimpinan. Generasi muda perlu menghormati nilai-nilai leluhur Indonesia dan percaya pada potensi besar yang dimiliki setiap individu. Seperti ungkapan  “Ad maiora natus sum” yang artinya setiap anak di lahirkan untuk hal-hal besar yang bersumber dari kerja keras, kesabaran, totalitas, kegigihan dan fokus dalam menjalankan tugas yang diberikan.

Penulis : Mahfud Susanto

Penulis merupakan mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 2021 FKIP-Universitas PGRI Ronggolawe Tuban dan opini ini merupakan tugas mata kuliah yang diampu oleh Ibu Yunita Suryani,M.Pd.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini