Hai Sobat
Waskita, saat ini perfilman Indonesia tengah mengalami kebangkitan yang luar
biasa lho. Banyak film karya anak bangsa yang mendapat penghargaan di festival
film Internasional, di antaranya yaitu Penyalin Cahaya. Nah, disini kami akan
sedikit berbagi cerita mengenai film Penyalin Cahaya.
Penyalin
Cahaya (Photocopier) adalah sebuah film drama thriller misteri Indonesia yang
disutradarai oleh Wregas Bhanuteja. Film ini ditayangkan perdana di Busan
International Film Festival (BIFF) 2021. Sebelum ditayangkan secara luas,
Penyalin Cahaya berhasil merebut 12 Piala Citra pada Festival Film Indonesia
(FFI) 2021. Mengusung tema mengenai perlawanan terhadap kekerasan seksual, film
ini dinilai memiliki keberanian tersendiri karena dirilis saat sedang maraknya
kasus pelecehan seksual yang terjadi di Indonesia.
Penyalin
Cahaya menceritakan perjuangan Suryani alias Sur, mahasiswi tahun pertama yang kehilangan
beasiswanya setelah swafoto saat mabuk tersebar ke media sosial. Sur yang tak
ingat lagi dengan apa yang telah terjadi dengan dirinya, sampai-sampai
memposting fotonya sendiri ke akun instagram miliknya, merasa bahwa dirinya
telah dijebak. Dari situlah Sur mulai mencoba untuk mengungkap fakta sebenarnya
dengan meminta bantuan temannya yang berprofesi sebagai tukang fotocopy, yaitu
Amin. Namun di tengah mengumpulkan bukti-bukti, Sur justru menemukan fakta
bahwa dirinya telah menjadi korban pelecehan seksual.
Kita bisa
melihat bahwa sepanjang film ini, Sur hanya dibantu oleh Amin dalam proses
pengumpulan bukti demi mendapatkan beasiswanya kembali. Hal ini dikarenakan
tidak ada yang percaya kepada Sur termasuk keluarganya sendiri. Mirisnya,
ketika Sur sudah mendapatkan bukti bahwa dirinya telah menjadi korban pelecehan
seksual, masih tak ada juga yang berpihak padanya. Bahkan ayahnya menganggap
bahwa hal itu murni kesalahan anaknya yang suka mabuk-mabukkan. Sementara pihak
kampus justru cari aman demi menjaga nama baik mereka. Pada akhirnya Sur mengaku
kalah, dan ia diminta membuat video klarifikasi permohonan maaf kepada pelaku
yang direkam oleh ayahnya sendiri.
Dari adegan
tersebut, dapat disimpulkan bahwa yang punya kuasa lebih berpeluang untuk
menang, sedangkan korban yang hanya menuntut keadilan justru semakin
tersudutkan. Bahkan keluarga yang seharusnya menjadi support system pertama bagi korban, malah membungkam sang anak agar
kasusnya dapat diselesaikan secara kekeluargaan. Hal ini tentunya akan menyadarkan
kita bahwa betapa sulitnya para penyintas kekerasan seksual di Indonesia untuk
mencari keadilan. Terkadang mereka harus berjuang sendirian tanpa adanya
bantuan dari pihak manapun, padahal seharusnya ada yang mendampingi mereka,
entah dari keluarga ataupun pihak-pihak yang secara khusus menangani hal ini.
Terdapat
banyak simbol semiotika yang ada dalam film Penyalin Cahaya, salah satunya yang
paling jelas dan sudah ada sejak awal film adalah kisah Medusa dan Perseus.
Dalam mitologi Yunani, kisah Medusa yang sebenarnya menjadi korban atas cinta
Poseidon justru mendapat hukuman dari Athena yang kemudian dikutuk menjadi
monster berkepala ular dan dikirim ke pulau yang jauh. Lalu, muncul Perseus,
manusia setengah dewa yang mendapatkan misi untuk memenggal kepala Medusa.
Meski dikenal sebagai sosok monster menakutkan, Medusa sebenarnya adalah simbol
perlawanan terhadap patriarki.
Nah, dari
adegan teatrikal menjelang akhir film ini, kita bisa melihat Rama berperan
sebagai Perseus yang berhasil membungkam Medusa dan saudara Gorgon-nya sebagai
simbol kalau patriarki menang. Ini menunjukkan adanya hubungan kisah Medusa di
awal film dengan konflik utama, yang mana Rama telah berhasil untuk membungkam
para korbannya yaitu Sur, Farah, dan Tariq lalu membakar satu-satunya bukti
yang paling kuat.
Selain itu, adanya
fogging nyamuk demam berdarah dengan
slogan 3M yaitu “Menguras, Menutup dan Mengubur” juga memiliki makna tersendiri
di dalam film ini. Diibaratkan dengan nasib para korban pelecehan seksual yang
telah menguras mental dan emosi demi memperoleh keadilan namun kasusnya kerap
ditutup begitu saja, dan mengubur bukti-bukti yang telah ada agar tidak
tersebar di khalayak umum.
Sepanjang
film, Wregas mampu mengemas dengan apik alur dan unsur semiotika di dalamnya.
Namun, tidak dengan endingnya, penulis nampak bingung memberikan ending yang
tepat. Diakhiri dengan Sur dan korban lainnya yang menggandakan bukti kecil
yang tersisa dengan mesin fotocopy, lalu disebarkan dari atas gedung kampus.
Sedangkan pelaku hanya mendapatkan pukulan dari tokoh Anggun yang merupakan
sutradara teater matahari. Hal ini tentunya sangat membuat penonton geram
karena pelaku tidak mendapatkan hukuman yang setimpal.
Jadi dapat
disimpulkan bahwa film ini jelas bukan untuk menghibur, melainkan mengajak
untuk berpikir akan pesan dibalik segala simbol semiotika di dalamnya. Sehingga
bila menyaksikan film ini tidak dengan konsentrasi dan niat yang cukup, maka
pesan itu berpeluang tidak akan sampai kepada penonton.
Nah, itu dia sobat sedikit banyak mengenai film Penyalin Cahaya, buat yang masih penasaran gimana cerita lengkapnya langsung nonton aja yaa. Semoga bermanfaat ya sobat. (dian)


