Mahasiswa PBSI Angkatan 2022 Sukses Gelar Pementasan Drama, Berikut Tanggapan Sutradara

0
355

Tuban – Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) angkatan 2022 Universitas PGRI Ronggolawe (UNIROW) Tuban menggelar acara pementasan drama guna memenuhi tugas Ujian Akhir Semester (UAS) mata kuliah Apresiasi Drama di Lorong Seni pada Selasa, (06/02/2024).

Pementasan drama dimulai pada pukul 19.30 WIB hingga selesai. Terdapat 3 kelompok yang tampil secara berurutan, dimulai dari kelompok 1 dengan judul naskah drama “Tali Wangke” karya Dian Yunita Aryani, mahasiswa PBSI angkatan 2020. Dilanjut kelompok 2 dengan judul naskah drama “Matahari di Sebuah Jalan Kecil” karya Arifin C. Noor. Terakhir kelompok 3 dengan judul naskah drama “Noni Belanda” karya mahasiswa PBSI angkatan 2022 yang merupakan salah satu anggota kelompok 3, Vella Riayatul Faiqoh.

Sutradara kelompok 1, Afthoniya Nurin Nadhifa mengungkapkan bahwa kelompok 1 mengusung tali wangke karena di era sekarang banyak mahasiswa yang tidak tahu mengenai istilah“Tali Wangke” dan seseorang yang disebut “Dongke.”

“Kita ingin mengenalkan kembali kepada mahasiswa bahwasannya ada istilah-istilah tertentu yang memang kental di Jawa dan pernah eksis pada masanya. Kemudian selain itu naskah tali wangke tuh juga ditulis dari kating kita dari angkatan 2020 yaitu kak Dian Yunita Aryani. Maka dari itu kita juga ingin mementaskan karya dari mahasiswa PBSI sendiri,” ujar Dhifa.

“Kalau dari Noni Belanda sendiri, mengapa  kita mengusung tema yang mistis, karena jadi tiga kelompok dalam pementasan drama itu kan sudah ada e yang pertama ada tali wangke, yakni lebih ke adat. Kemudian ada matahari di sebuah jalan kecil kak, lebih ke realistik. Jadi saya sendiri juga berpikir untuk dua kelompok tadi  tema lebih santai dan enjoy, dan untuk kelompok saya sendiri, sebenarnya yang pertama terinspirasi dari cerita/ film horor Danur. Dan juga kebetulan sekali  naskah yang ditulis di dalam drama ini, penulisnya kelompok kami sendiri,” jelas sutradara dari kelompok 3, Tri Yunita Nur Lathifah.

Untuk memberikan yang terbaik dalam pementasan, masing-masing kelompok melakukan latihan yang dimulai dari bulan November hingga Januari.

“E kira-kira November ya. Kira-kira di bulan November itu kita udah mulai latihan, udah mulai casting mulai reading, dan latihan intensifnya ada di bulan Januari. Nah, itu kita dibimbing oleh dosen ya bisa dibilang dosen praktisi yang memang diminta dari kaprodi yaitu pak Zanky, yang dulu pernah mengajar di sini gitu, di PBSI,” ungkap Dhifa.

Adapun sutradara dalam mengatur latihan menggunakan cara yang berbeda-beda, dimulai dari pembentukan artistik, pemilihan naskah, maupun latihan intensif per-adegan hingga matang. Masing-masing kelompok juga mengalami kendala, diantaranya casting yang cukup lama, blocking dan penataan panggung, moving, serta adanya cekcok antar pemain.

“Kesannya, Alhamdulillah karena sebenarnya kita tidak expect bakal seberhasil ini karena menurut saya dari sekian banyak latihan, penampilan di hari H ini memang yang paling maksimal dan luar biasa. Ada salah satu adegan yang sulit sekali untuk aktor saya mainkan yaitu adegan Sholehah tertawa. Dan Alhamdulillah banget di malam ini pertama kalinya Sholehah bisa menyampaikan itu ke penonton dengan sangat baik. Jadi saya sangat bersyukur, penampilan malam ini luar biasa banget,” tutur Dhifa.

Sutradara dari kelompok 3, Tri Yunita pun mengakui bahwa penampilan pada malam hari ini sangat luar biasa, keren, dan plot twist mengingat banyaknya permasalahan yang terjadi selama proses latihan.

“Sebenernya nggak nyangka kak, nggak nyangka dan kayak Alhamdulillah juga tapi juga nggak nyangka. Soalnya dari awal November dari pemilihan naskah kan sudah gagal 3 kali dalam memilih naskah, dan akhirnya yang terakhir pas di Noni Belandanya,” ujar Nita yang terpilih sebagai sutradara terbaik dalam pementasan drama kali ini.

Adapun harapan yang disampaikan oleh kedua sutradara, yaitu agar bisa menjadi pemimpin yang baik, bisa mengatur anggota kelompok sehingga berhasil dalam kerja sama, serta menjadi pembelajaran di masa depan. (Amaliya Syafitri)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini