Menuntaskan Mimpi Sang Ayah: Kisah Selmitha, Peraih IPK Tertinggi di Wisuda ke-24 UNIROW Tuban

0
34
Selmitha Dwi Pradestia S. Pd berfoto bersama Rektor UNIROW Tuban usai menerima penghargaan sebagai peraih IPK tertinggi.

LPM Waskita, TUBAN — Selmitha Dwi Pradestia mengenakan toga pada Wisuda ke-24 Universitas PGRI Ronggolawe (UNIROW) Tuban, Kamis (5/11/2026). Perempuan asal Desa Leran Kulon, Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban, tersebut berhasil meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,95 sekaligus menjadi peraih IPK tertinggi dalam prosesi wisuda tersebut.

Bagi Selmitha, wisuda bukan sekadar akhir perjalanan pendidikan. Momen itu menjadi jawaban atas cita-cita sang ayah yang ingin melihatnya menyandang gelar sarjana. Sebagai anak bungsu dari dua bersaudara, ia tumbuh dalam keluarga sederhana dengan segala keterbatasan.

Namun, lima tahun lalu, Selmitha kehilangan ayahnya. Kepergian sosok yang menjadi sumber harapan tersebut mengubah banyak hal dalam kehidupannya. Di tengah kesedihan, ia mulai memikirkan cara untuk melanjutkan hidup tanpa menambah beban ibunya.

“Waktu itu, yang saya pikirkan, bagaimana bisa mendapatkan pekerjaan dan membantu ibu. Saya sadar keadaan keluarga sudah berubah setelah ayah meninggal,” kenangnya.

Bagi perempuan berusia 23 tahun ini, semangat untuk melanjutkan pendidikan sempat meredup. Namun, dorongan dan harapan terakhir sang ayah kembali membangkitkan asanya untuk menatap masa depan.

Berbekal doa dan dukungan ibu, Selmitha memutuskan mendaftar di Program Studi Pendidikan Ekonomi UNIROW Tuban melalui jalur beasiswa. Seluruh rangkaian seleksi dilaluinya hingga akhirnya dinyatakan lolos sebagai penerima beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP).

Keberhasilannya memperoleh beasiswa KIP menjadi angin segar. Kesempatan untuk merasakan pendidikan di perguruan tinggi akhirnya terbuka.

“Ketika dinyatakan lolos beasiswa, rasanya sangat bersyukur. Saya merasa keinginan ayah untuk melihat anaknya jadi sarjana akhirnya bisa terwujud,” ungkapnya.

Meski demikian, perjuangan Selmitha belum selesai. Beasiswa yang diperolehnya digunakan untuk menunjang pendidikan, bukan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya bersama sang ibu. Untuk mencukupi kebutuhan tersebut, ia juga bekerja sampingan sebagai host live streaming yang menjual produk perabotan rumah tangga.

Namun, menjadi host live streaming bukanlah pekerjaan mudah. Selmitha harus pandai membagi waktu. Setiap harinya, ia menghabiskan waktu tidak kurang dari enam jam untuk melakukan siaran langsung di TikTok.

“Menjalani kuliah sambil bekerja harus pintar membagi waktu. Saya bersyukur tempat kerja memberikan izin ketika ada kegiatan kampus,” jelas Selmitha.

Di tengah kesibukannya, anak kedua dari pasangan Parno (alm.) dan Suparti ini tidak melupakan aktivitas pengembangan diri. Ia tercatat aktif mengikuti berbagai program dan berhasil meraih sejumlah prestasi. Di antaranya, Juara Harapan II Porsenasma ke-V PT PGRI tahun 2025 pada Program Kreativitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan, lolos program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), hingga dinobatkan sebagai Relawan Pajak Ranjani Paling Inovatif.

Pada hari wisuda, ketika berdiri di antara ratusan lulusan lainnya, ingatan Selmitha kembali tertuju kepada sang ayah. Harapan yang dahulu menjadi penyemangatnya kini terasa semakin bermakna.

“Dulu, saya sempat berpikir bahwa kehilangan ayah berarti kehilangan kesempatan. Justru, cita-cita itu harus terus diperjuangkan sebagai bentuk cinta dan penghormatan kepada orang yang kita sayangi,” ungkapnya.

Kisah Selmitha menjadi salah satu cerita yang mengiringi Wisuda ke-24 UNIROW Tuban. Dengan mengusung tema “Mewujudkan Lulusan Bermutu: Bersinar tanpa Membayangi, Berdampak tanpa Membebani”, UNIROW ingin menanamkan keyakinan bahwa mutu seorang lulusan tidak hanya diukur dari tingginya nilai akademik. Lebih dari itu, mutu tercermin dari bagaimana seseorang hadir di tengah masyarakat dan mampu memberikan dampak.

Rektor UNIROW, Prof. Dr. Warli, M.Pd., menyampaikan bahwa para wisudawan yang dikukuhkan diharapkan menjadi lulusan yang memiliki kompetensi, integritas, dan keberanian, serta tangguh dalam belajar sepanjang hayat untuk menghadapi dunia yang terus berubah.

“Bersinarlah tanpa membayangi orang lain, jadilah lentera, bukan tirai, dan raih sukses tanpa merendahkan atau mengorbankan orang lain,” ucap Rektor.

Senada dengan Rektor UNIROW, Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VII Jawa Timur, Prof. Dyah Sawitri, juga menekankan pentingnya menjaga etika, disiplin, dan tanggung jawab akademik bagi para lulusan.

Menurut Prof. Dyah, ketiga hal tersebut merupakan implementasi dari konsep dan karakteristik perguruan tinggi swasta (PTS) di wilayah VII Jawa Timur.

“Ini harus selalu ada. Jika Anda seperti itu, secara praktis dan strategis Anda dapat mengimplementasikan konsep dan karakter dari PTS di wilayah VII Jatim,” ujarnya.

Bagi Selmitha, toga dan IPK 3,95 bukanlah akhir perjalanan, melainkan titik awal untuk membuktikan bahwa keterbatasan dan kehilangan tidak harus memutus cita-cita. Kisahnya menjadi cerminan dari tema Wisuda ke-24 UNIROW Tuban: lulusan bermutu adalah mereka yang bersinar tanpa membayangi dan memberi dampak tanpa membebani.

Melalui pesan Rektor UNIROW dan Kepala LLDIKTI Wilayah VII Jawa Timur, wisuda ini menegaskan bahwa keberhasilan akademik harus berjalan beriringan dengan integritas, etika, dan tanggung jawab sosial. Selmitha menjadi salah satu gambaran dari harapan tersebut, yakni lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu menjadi lentera bagi keluarga dan masyarakat.

(red).

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini