Geliat Pandai Besi Tradisional di Desa Bulurejo, Kecamatan Rengel Tetap Bertahan Meski Ditempa Zaman

0
204
Membuat Perkakas rumah tangga seperti golok, sabit dan cangkul di Desa Bulurejo Kecamatan Rengel Kabupaten Tuban [foto:Dokumentasi KKN 22 Bulurejo]

Bulurejo – Sejumlah alat persawahan dan perkebunan terlihat berjajar di sebuah sentra Pande Besi di Dusun Goreng, Desa Bulurejo, Kecamatan Rengel, Tuban. Pengrajin Pande Besi itu terlihat memberikan penjelasan secara rinci soal proses produksi peralatan kerja tersebut. Di hadapan Mahasiswa KKN Unirow Desa Bulurejo, Pemilik Kerajinan ini mengungkapkan pengalamannya sebagai seorang pande besi sudah sejak tahun 1995. ( 31/07/25)

Dengan Suara dentuman nyaring begitu lantang memecah keheningan di bawah terik matahari siang bolong. Dari radius sekitar 50 meter pun juga masih terdengar. Berlangsung sekitar 10 sampai 15 detik, suara itu reda.

Namun, beberapa saat kemudian kembali berdentum nyaring. Begitu seterusnya hingga berulang-ulang. Begitulah suasana di tempat sentra pande besi.

Setiap harinya, mereka membuat besi-besi balok yang didapatkannya dari loak dan rongsokan, menjadi sebilah sabit, golok, cangkul, dan berbagai perkakas rumah tangga seperti pisau.

Kecanggihan peralatan industri dalam pembuatan perkakas tidak membuat pengrajin meninggalkan cara tradisional. Dia tetap memperhatikan kualitas dan detail kekhasan gaya pande besi konvensional yang telah turun temurun.

“Kualitas produk dijaga mulai dari cara pembuatan sampai bahan dari baja sehingga ketajamannya tahan lama,” ujar Darmojo pengrajin Pande Besi

Dalam sehari dia mampu memproduksi 12 macam perkakas yang dipasarkan ke pasar Rengel , pasar Tuban dan melayani pesanan.

Sebagai pande besi tak hanya bertugas memastikan pola besi yang dibentuk sesuai.

Namun, juga harus menjaga bara api yang dipakainya untuk melebur besi tetap memiliki panas yang mencukupi dan juga dituntut ekstra hati-hati, karena panas besi saat dilebur bisa membahayakan dirinya jika sedikit saja melakukan kesalahan.

Tak lupa, dia menggunakan sarung tangan dan air yang ditempatkan di sebelahnya untuk mendinginkan besi yang diproses peleburan.

“Ini memang harus dilebur, dipukul-pukul, sampai bentuknya kelihatan pas,” Pungkas Bapak 40 tahun itu.

Oleh : Mahasiswa KKN Kelompok 22 Bulurejo

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini