Antara Nilai dan Pengalaman

0
215

“Keinginan
atau pencapaian yang ingin kamu lakukan itu apa?” Tanya seorang dosen pada
salah seorang Mahasiswa.

“Saya
ingin memiliki nilai IPK yang tinggi lalu bekerja di sebuah perusahaan”. Jawab
sang Mahasiswa.

Begitu seputar obrolan
singkat antara dosen dengan salah seorang mahasiswa tentang keinginan dan
pencapaian yang dilakukan, dan hal tersebut tidak lepas dari keinginan untuk
memiliki nilai IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) yang tinggi dan memuaskan.

Memiliki nilai IPK
tinggi disaat kelulusan, menjadi jalan lurus untuk dapat masuk pada perusahaan
dan tentunya menjadi cita-cita sebagian besar mahasiswa. Sebuah perusahaan
membentuk sebuah sistem sesuai standart, sehingga standart tersebut berpengaruh
terhadap mahasiswa atau perguruan tinggi. Angka diatas kertas menjadi tolak
ukur kemampuan manusia.

Tapi, dalam perguruan
tinggi ada 2 (dua) jenis mahasiswa. Pertama, mahasiswa yang taat akan sebuah
nilai di atas kertas. Sehingga, mahasiswa tersebut rela melakukan apapun demi
nilai tersebut. Kedua, mahasiswa yang menganggap bahwa nilai hanyalah angka di
atas kertas, dan lebih mengutamakan memperbanyak pengalaman daripada nilai.
Biasanya, mahasiswa seperti ini selalu berlogika dan sulit menerima suatu hal
begitu saja, akan selalu timbul pertanyaan jika mendapat hal-hal baru untuk
menguji relevansinya. Lalu, manakah mahasiswa yang lebih baik? Kedua jenis
mahasiswa tersebut sama-sama baik, karena setiap mahasiswa memiliki otoritas
dalam dirinya untuk memilih mana yang baik untuk dirinya.

Bukti eksistensi sebuah
Lembaga Perguruan Tinggi adalah melahirkan banyak pasca sarjana yang bernilai
IPK tinggi agar bisa bekerja dalam sebuah perusahaan atau pemerintahan,
sehingga hal tersebut menjadi bagian dari akhir tujuan. Para atasan rektorat
sangat berbangga diri atas pencapaian semua itu. Namun, dari semua pencapaian
itu akan selalu timbul pertanyaan, apakah bisa menjamin dari seluruh nilai IPK
tinggi di atas kertas terhadap keilmuan dan kredibilitas seseorang?

Mengenai pertanyaan
tersebut saya belum bisa menjawab, karena saya sendiri bukan orang atasan
rektorat yang memiliki otoritas penuh dalam perguruan tinggi. Tapi saya
memiliki asumsi lain mengenai pertanyaan itu.

Secara dasar, seorang
mahasiswa akan mendapatkan nilai IPK tinggi asal selalu taat aturan atau tidak
pernah ikut aksi (demo) yang berpengaruh terhadap kampus, artinya jalan seorang
mahasiswa lurus-lurus saja. Namun, saya memiliki pemahaman baru yang mungkin
bisa menjawab dari pertanyaan tersebut, dari buku yang saya baca berjudul “Homo Deus” karya Yuval Noah Harari.
Rumus dari pengetahuan adalah “Pengalaman x Sensitivitas”. Sebuah ilmu sangat
mendasar jika hanya kita pelajari tanpa praktik, dan praktik tersebut untuk
memberi pengalaman.

Lalu, apa itu yang
dimaksud dengan pengalaman? Pengalaman bukan lah data empiris, yang tersusun
rapi dengan angka-angka. Pengalaman tidak terdiri dari atom-atom, gelombang
elektromagnetika, atau protein-protein. Namun, pengalaman ialah fenomena
subjektif yang terdiri dari tiga unsur utama yaitu; sensasi, emosi, dan
pikiran. Pada saat dimana pun, pengalaman berisi segala yang kita rasakan
(panas, tegang, senang, dan lain-lain), segala emosi yang kita rasakan (cinta,
takut, marah, dan lain-lain) dan apapun yang muncul dalam pikiran kita.

Lantas, apa itu yang
disebut sensitivitas? Ia berarti dua hal. Pertama, memperhatikan sensasi,
emosi, dan pikiran. Kedua, membiarkan sensasi, emosi, dan pikiran ini
mempengaruhi. Benar, kita tidak boleh membiarkan angin lalu menyapu. Namun,
kita pun harus terbuka terhadap pengalaman baru dan memperbolehkan
pandangan-pandangan, prilaku, bahkan kepribadian kita.

Pengalaman dan
sensitivitas selalu berjalan beriringan dan saling membangun dalam siklus yang
tak pernah berhenti. Menurut saya, kita tak bisa mengalami apapun jika kita tak
punya sensitivitas, dan kita tak bisa mengembangkan sensitivitas jika tak
mengalami beragam pengalaman. Sensitivitas bukan kemahiran abstrak yang bisa
dikembangkan dengan membaca buku atau mendengarkan kuliah. Ia adalah
keterampilan praktis yang hanya bisa menjadi masak dan matang dengan
menerapkannya dalam praktik.

Dalam sebuah kegiatan
praktik tujuannya adalah menambah pengalaman secara individu maupun kelompok,
untuk membangun sebuah lingkungan yang produktif belajar, hal tersebut sangat
membutuhkan sarana dan prasarana sebagai penunjang. Jika di Perguruan Tinggi
memiliki sarana sebagai penunjang kegiatan praktik keilmuan dan seni, contoh
sarana yang paling fundamental yaitu Laboratorium lengkap, Auditorium, dan
panggung budaya. Laboratorium dengan fasilitas lengkap tentu berpengaruh pada
sebuah hasil penelitian dan pembelajaran. Auditorium dan panggung budaya
sebagai sarana untuk berekspresi dan berkarya yang bernilai kesenian. Menambah
pengalaman di luar jurusan kuliah adalah dengan mengeksplorasi hobi atau bakat
diri.

Secara hierarki, bahwa
setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing termasuk dalam hal
pengetahuan. Seseorang pun memiliki sebuah nalar sehingga akan tertarik untuk
mendalami sebuah ilmu, maka dari itu ada orang yang lebih pandai berpolitik,
ada yang pandai berekonomi, dan ada juga yang pandai memasak. Semua itu
memiliki jalan tersendiri, semua tidak langsung matang, melainkan ada suatu
proses pembentukan yang berisi pengalaman-pengalaman terbaru. Pengetahuan tidak
ada yang final, seiring berjalannya waktu, pengetahuan akan selalu berevolusi mengikuti perkembangan sosial dan kemajuan terknologi. Maka, teruslah belajar.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini