Mampukah Pendidikan Tinggi Menghasilkan Orang Terdidik?

0
208

 

(Cr: mediaindonesia)

Pendidikan merupakan bekal yang paling utama dalam sebuah
kehidupan setiap orang. Yang mana dengan adanya pendidikan seseorang mampu membedakan mana yang
baik dan buruk, mana yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan. Akan tetapi saat ini kondisi pendidikan sangat memprihatinkan, pendidikan hanya menghasilkan
orang pintar bukan orang yang terdidik.

Munculnya berbagai masalah dalam masyarakat seperti berbagai tindakan kriminal yang memalukan
merupakan akibat dari perilaku
orang-orang yang tidak berpendidikan. Masalah seperti korupsi, kolusi dan nepotisme
masih saja terjadi
di tengah semakin
berkembangnya pendidikan warga
negara Indonesia, karena memang demikian? Orang pintar belum tentu berpendidikan SMA dengan gelar
doktor atau bahkan guru belum tentu mampu mengubah
perilaku seseorang. Mungkin SMA di Indonesia telah berhasil mencetak orang pintar tapi tidak sesuai dengan yang
diharapkan.

Model pendidikan formal di Indonesia hanya mengajarkan bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang membuat masyarakat menjadi lebih pintar.
Sayangnya, tidak diajarkan dari segi karakter yang membuat orang terpelajar. Itulah sebabnya masih banyak orang pintar yang melakukan tindakan memalukan seperti suap.

 Mungkin hanya di Indonesia mantan pelaku korupsi masih bisa menjadi
pimpinan sebuah lembaga.
Seharusnya tidak membuat malu semua pihak, meski masih banyak orang terpelajar yang tidak terpilih.
Revisi sistem pendidikan formal bisa jadi solusi jika sistem pendidikan formal di Indonesia segera dirombak
dengan fokus pada proses, maka tidak hanya akan menghasilkan orang-orang terpelajar, tetapi orang-orang yang terbiasa
menerima pendidikan hanya dengan melihat hasilnya. Dengan pendidikan karakter dapat mengajarkan kepada manusia agar taat kepada norma agama maupun
sosial, dan menjadi
manusia berbudi pekerti
luhur serta memiliki
sikap yang bertanggung jawab. Saatnya pemerintah dan perguruan tinggi membenahi pola pendidikan formal
di Indonesia agar lebih maju dan
berkualitas.

Karakter seseorang itu tidak bisa diwariskan, tetapi harus dibangun
dan dikembangkan secara sadar
hari demi hari dengan melalui suatu proses yang tidak instan. Karakter bukanlah sesuatu bawaan sejak lahir yang tidak
dapat diubah lagi seperti sidik jari.
Kita memiliki kontrol penuh atas karakter kita, yang artinya kita tidak dapat menyalahkan orang lain karena kita
yang bertanggung jawab penuh atas diri kita
sendiri. Kenapa semua itu bisa terjadi? Karena karakter seseorang tidak bisa diukur dan dinilai oleh satu pihak. Salah satu faktor yang menyebabkan suatu karakter seseorang seperti itu mungkin
karena latar belakangnya ataupun ada berbagai
masalah yang sedang
dihadapi entah itu di
dalam keluarga, lingkungan sekitar ataupun dengan teman-temannya. Dan di
sisi lain yang menjadi hal penting dalam menuntut
ilmu yaitu pendidikan budi pekerti yang tidak diajarkan. Sehingga seseorang
yang bergelar doctor atau bahkan professor sekalipun, nyatanya belum
tentu mampu mengubah kelakuan mereka sesuai dengan tujuan dari pendidikan
itu sendiri.

Fenomena seperti ini jika dianalisis ataupun dikaitkan
dengan perspektif sosiologi, yang di mana
tindak perilaku ataupun pendidikan seseorang itu sangatlah minim, sehingga
banyak pemimpin dan pejabat di luar
sana terlihat taat beragama dan berpendidikan justru
mereka yang terkadang
melakukan kejahatan seperti korupsi.

Hal ini dapat dikaitkan dengan Teori Interaksionalisme Simbolik,
Max Weber, yang menjelaskan bahwa individu bertindak
sesuai dengan interpretasi mereka terhadap makna yang ada pada dunia.
Teori ini memberikan perspektif pada sosiolog
untuk mempertimbangkan keberadaan simbol pada kehidupan sehari-hari. Hal tersebut dapat membantu orang untuk berintraksi
satu sama lain.

Kita dapat
mengambil contoh dari cerita tentang “ Laskar Pelangi ” karya Andrea Hirata yang menceritakan tantang kehidupan 10
anak dari keluarga miskin yang bersekolah di
Belitung yang penuh dengan keterbatasan. Tetapi kita harus bisa memahami dan mengetahui bahwa potensi seseorang itu
berbeda-beda, seperti Ikal yang tertarik di bidang
sastra, Lintang si anak jenius yang tertarik dengan matematika, Mahar si penyanyi
yang menyukai di bidang seni, Kucai yang tertarik sebagai
seorang pemimpin dan Harun anak yang memiliki
keterbelakangan mental namun ada banyak
potensi yang ada di
dalam dirinya.

Dari cerita itu saya termotivasi dan terinspirasi bahwa
setiap orang memiliki sebuah potensi
yang berbeda-beda, kemampuan
yang dimiliki janganlah
hanya menilai dari kepintaran
seseorang hanya karena mendapatkan nilai yang bagus, dan pendidikan yang tinggi tetapi bagaimana cara orang tua mendidik, memberi
bimbingan dan mengajarkan
bagaimana berperilaku yang baik agar dapat menjadi orang yang sukses.

Di sinilah saya rasa letak kesalahannya pada sistem di negeri ini, yang membolehkan siswa menggunakan segala cara
untuk mencapai hasil yang telah ditentukan,
bahkan metode yang dianut juga harus dimasukkan dalam penilaian apakah metode itu baik atau buruk. Maka dari
itu dapat kita simpulkan
bahwa seseorang yang bergelar tinggi
sekalipun itu tidak menjamin memiliki perilaku yang terdidik. Untuk itu pola pendidikan formal
harus diimbangi dengan
pendidikan karakter dan berbagai potensi untuk menghasilkan orang pintar yang terdidik.

Harapan saya untuk kedepannya, semoga Indonesia mampu menghasilkan orang-orang yang
cerdas, pintar dan terdidik.

Kontributor : Rizal Abdul Aziz

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini