Pendidikan Islam Mampu Membentuk Karakter Anak Sejak Dini

0
269

 

(Cr: kompasiana)

Mendidik anak pada era sekarang ini cukup berat, pengaruh lingkungan sekitar demikian kuat yang dapat membentuk karakter sang anak. Menurut ajaran Islam, manusia pada awalnya lahir dalam keadaan fitrah dalam arti Islam, tetapi lingkungan bisa merubah fitrah itu sebagaimana Hadist Nabi: “Tiadalah seorang yang dilahirkan itu kecuali dalam keadaan fitrah, kemudian kedua orangtuanya lah yang menjadikannya yahudi, nashrani atau majusi”. Hadist ini menyiratkan betapa lingkungan merupakan faktor penentu perubahan perkembangan karakter dan keyakinan sang anak. Pengaruh lingkungan dalam arti luas tidak hanya berkaitan langsung dengan orang tua, keluarga dan masyarakat sekitar tetapi juga berasal dari interaksi dengan sejumlah program, pesan dan peradaban yang terdapat di berbagai media sosial seperti televisi, sosial media, dan internet sebagai akibat dari perkembangan kemajuan teknologi di masa kini.

Perkembangan teknologi media bisa jadi boomerang bagi pendidikan karakter anak Muslim karena produk teknologi itu ditemu-kembangkan dalam pandangan dunianya sendiri terlepas dari kalimat tauhid yang hanya taat dan patuh pada wahyu Ilahi. Jika kondisi ini tidak diantisipasi secara cermat maka dikhawatirkan perkembangan pertumbuhan anak berada dibawah “skenario” pembuat pesan yang mungkin saja bertentangan dengan nilai-nilai keyakinan agama (Islam). Alhasil, ketika anak tumbuh menjadi orang dewasa nilai-nilai yang dianut bukanlah sejatinya nilai agama tetapi sudah dirasuki dan dipengaruhi paradigma yang sesungguhnya bertentangan dengan ajaran Islam pada sumber Al-Quran dan contoh-contoh dari Nabi Muhammad SAW.

Oleh karena itu pendidikan anak usia dini (PAUD) menjadi penting yang telah mulai disadari pemerintah dengan mengeluarkan berbagai kebijakan terkait dengan pendidikan anak usia dini (PAUD). Namun begitu tampaknya persoalan metodologi pembelajaran masih perlu ditingkatkan agar karakter anak pada usia dini dapat terbentuk dengan baik. Dalam konteks pengenalan agama, metodologi menghafal surat-surat dalam Al Quran mesti juga dibarengi dengan contoh dan keteladanan dalam berperilaku secara konsisten dan konskuen. 

Lalu manakala anak didik diberitahukan pentingnya kebersihan tetapi di lingkungan kelas dan sekolah tidak terdapat tempat sampah yang memadai. Seringkali hal-hal tersebut dianggap sepele, padahal pembentukan karakter anak mesti dimulai dari hal-hal kecil dan sepele tetapi akan berdampak positif bagi pertumbuhan karakter anak pada tujuh tahun pertamanya. Ketekunan dan “kecerewetan” guru membimbing anak agar berperilaku pada tempatnya itu niscaya akan meninggalkan kesan mendalam bagi anak didik setelah tujuh tahun pertama berlalu. Kesan-kesan positif dalam diri anak itu melekat erat dibawah menjadi karakter saat yang bersangkutan dewasa dan terjun berekiprah di masyarakat.

Oleh karena itu pada anak usia dini pelajaran kejujuran, kebersihan, gotong royong, kasih sayang sesama serta berbagai perilaku baik lain perlu diungkapkan kepada anak didik tidak hanya secara verbal diajarkan oleh Al-Quran dan hadist tetapi juga secara praktik dilaksanakan oleh anak didik atas arahan dan contoh dari sang guru. Sepanjang yang saya ketahui, kelemahan pendidikan anak usia dini baik pada lembaga yang berbasis agama atau pun tidak adalah pada praktik dan konsistensi dalam mengajarkan nilai-nilai kebaikan tersebut diatas. Manakala nilai-nilai kejujuran, kebersihan, gotong royong, kasih sayang, tolong menolong tidak dipraktikkan dan belum melekat pada diri anak didik sehari-hari maka dikhawatirkan kesan-kesan positif tidak membekas pada dirinya, sehingga pada usia 7 tahun kedua dan ketiga akan mudah dipengaruhi lingkungan yang negatif.

Sesungguhnya pendidikan itu membentuk karakter dan karakter itu terkait budi pekerti. Hal ini sesuai dengan hadist nabi bahwa beliau diutus ke muka bumi semata-mata adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia. budi pekerti yang agung, perilaku positif dan menebarkan kebaikan bagi sesama dan lingkungan merupakan ajaran Islam, sehingga Islam adalah agama praktik atau pemahaman agama diejawantahkan dalam wujud-wujud kebaikan. Landasan kebaikan yang dilakukan tentunya bersumber dari ajaran yang termaktub dalam Al-Quran dan hadist. Penjabaran nilai-nilai dari kedua sumber ini yang perlu terus ditingkatkan secara kualiatatif dan kuantitaif karena tampaknya khasanah metodologi pembelajaran agama yang “down to earth” atau menukik ke bumi di Indonesia masih perlu diperkaya dengan contoh-contoh nyata. 

Kontributor: Era Anggraheni

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini