Chat GPT Mainkan Peran Pembantu Bukan Pengganti

0
199

 

Pada
era digital saat ini, teknologi yang terus berkembang telah mengubah banyak
aspek kehidupan manusia, khususnya dunia pendidikan.
Pada dasarnya,
teknologi merujuk pada penggunaan pengetahuan dan alat untuk mencapai tujuan
tertentu atau memecahkan masalah. Seiring waktu, teknologi telah berkembang
dengan pesat, membawa perubahan yang signifikan dalam cara bekerja,
berkomunikasi, belajar, bermain, dan bahkan berinteraksi dengan dunia luar.

Salah
satu inovasi terbaru yang mempengaruhi dunia pendidikan adalah penggunaan
Chatbot dengan teknologi (Generative Pre-Trained Transformer) GPT. GPT adalah
model kecerdasan buatan (AI) yang dikembangkan oleh OpenAI, dan telah
memberikan dampak yang signifikan dalam berbagai bidang, termasuk pendidikan.
Dilansir dari 
https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2023/05/15/kunjungan-chatgpt-tembus-18-miliar-pada-april-2023-amerika-pengguna-terbanyak pengujung ChatGPT memasuki April 2023 
telah meningkat hingga 1,8 Miliyar.

Pengunaan
ChatGPT yang secara khusus untuk menyediakan respon dan menjawab pertanyaan
berdasarkan input teks yang diberikan, menjadikan platfom ChatGPT sebagai
tujuan dari para pelajar maupun mahasiswa dalam
mengerjakan tugas
ataupun pertanyaan yang dimilikinya.
Tak heran jika data pengunjung ChatGPT selalu naik setiap tahunnya.

Padahal,
pada dasarnya ChatGPT hanya memiliki pengetahuan yang terbatas berdasarkan apa
yang dipelajari dari data pelatihan dan tidak memiliki pemahaman atau kesadaran
terhadap realitas di luar yang dipelajarinya. Meskipun ChatGPT dilatih pada
jumlah besar teks dari berbagai sumber seperti buku, artikel, dan konten web
lainya, kita masih harus mempertanyakan kevalidasiannya atau ke asliannya.

Dalam
penggunaan ChtaGPT peran manusia sebagai pemikir tetap penting.  ChatGPT seharusnya bukan sebagai alat
pengganti, tetapi alat pendukung dan pelengkap untuk belajar maupun untuk
menyelesaikan tugas-tugas, dan membantuh dalam hal lainya. Kita tidak bisa
mengalihtugaskan apa yang menjadi tanggung jawab kita kepada ChatGPT karena
model kecerdasan ini juga masih dalam tahap pengembangan, dan data yang ada di
dalamnya belum tentu keakuratan dan kevalidannya.


Penulis adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia angkatan 2020 FKIP, Universitas PGRI Ronggolawe Tuban

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini