DPM Membangun Kultur Demokrasi Melalui Sosialisasi Pemilihan Umum Raya Mahasiswa (PEMIRA) di Lingkungan Kampus

0
266

Tuban– Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) mengelar Sosialisasi Pemilihan Umum Raya Mahasiswa (PEMIRA) Unirow Tuban tepat pada Kamis (21/09). Siapapun berhak menjadi pemimpin mahasiswa asal memiliki kompetensi dan bertanggung jawab terhadap keleluasaan yang dimilikinya.

Sistem Pemilu Raya (PEMIRA) yang telah resmi pada tahun ini, berbeda dengan sistem pada tahun sebelumnya yaitu Sistem Kongres. Untuk sistem kongres, proses pemilihannya melalui perwakilan mahasiswa dari masing-masing Himpunan Mahasiswa (HIMA)

Sehingga, hanya perwakilan yang dapat milih, tidak semua mahasiswa. Sedangkan untuk Sistem Pemilu Raya (PEMIRA) ini melibatkan seluruh mahasiswa untuk memilih dan menentukan presidennya selama satu periode ke depan.

Dalam proses pelaksanaan Pemilu Raya (PEMIRA) pada 14 Desember 2023 nanti, Salman Al-Farisi selaku Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) mengaku bahwa pengajuan proposal mendapat kemudahan. Melalui Wakil Rektor 3 beserta orang-orang birokrat, agar pemilu raya mendapat suntikan dana dan persetujuan dari pihak rektorat. Akhirnya, membuahkan hasil dengan mendapat persetujuan dari pihak birokrat dan dana yang cair sekitar 40-45%.

“Respon dari pihak birokrat alhamdulillah sangat memuaskan dan pesannya kepada saya dari pihak rektorat jaga konduktivitas agar sistem Pemilu Raya (PEMIRA) ini bisa berjalan dengan lancar,” ungkap Salman.

Tujuan dari perubahan sistem Kongres ke sistem Pemilu Raya (PEMIRA) ini ada 2:

  1. Untuk meningkatkan kembali gairah mahasiswa dalam berorganisasi
  2. Agar seluruh mahasiswa bisa aktif dalam memilih presidennya

Adapun tanggapan dari pihak birokrat ingin mahasiswa ikut aktif dan menjadikan pemilu raya sebagai ajang pembelajaran demokrasi dalam kampus.

Untuk menyukseskan acara, Salman menuturkan semua susunan acara harus benar-benar dengan konsep yang baik, melibatkan seluruh lapisan mahasiswa. Jika hanya DPM yang jalan, pasti akan timpang atau tidak seimbang harus ada timbal balik agar dapat berjalan lancar.

Perubahan Sistem Kongres ke Sistem Pemilu Raya (PEMIRA) ini atas ide Salman. Melihat kondisi Organisasi Kemahasiswaan (ORMAWA) yang mulai agak apatis terhadap adanya organisasi di Universitas PGRI Ronggolawe Tuban.

Dengan adanya Pemilu Raya (PEMIRA) ini harapannya dapat membangkitkan kembali semangat mahasiswa dalam berorganisasi, karena memang dalam kurun 10 tahun belum ada Pemilu Raya (PEMIRA). Terakhir kali pelaksanaan Pemilu Raya adalah pada tahun 2016, artinya kita babat alas, mahasiswa tahun ini benar-benar memulai dari awal baik undang-undangnya ataupun ide-idenya, karena sudah mulai hilang, saking lamanya.

Proses pembuatan proposal ini kurang lebih memakan waktu sekitar empat hari, dan saudara Salman sendiri yang menghadap Wakil Rektor 3 pada saat itu. Meskipun begitu, kendala dari pihak DPM juga cukup banyak.

“Terkait dengan mahasiswa misalnya banyak HIMA yang tidak bisa hadir dan ikut menyukseskan, terkendala juga dana, awalnya anggaran yang disampaikan cukup besar tapi yang di acc kecil, akhirnya harus kita atur lagi,” jelasnya.

Dokumentasi: Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM)

Lokasi: Depan Camp MAHIPAL

Terakhir, Salman memaparkan harapannya agar pemilu raya dapat berjalan dengan lancar dan terus berlanjut.

“Semoga Pemilihan Raya ini bisa berjalan dengan lancar sesuai dengan konsep yang telah ditawarkan oleh teman-teman DPM dan semoga Pemilu Raya (PEMIRA) ini berlanjut untuk beberapa tahun kedepan tidak hanya mati pada Pemilu Raya tahun ini saja, kan jadinya nanti sia-sia, minimal kita dari DPM tahun ini mengawali memang cukup berat karena kasarannya kami sendiri juga belum ada pengalaman bikin Pemilu Raya, Alhamdulillah teman-teman di DPM semua kompak dengan adanya Pemilu Raya ini, Semoga teman-teman nanti bisa aktif melanjutkan perjuangan dari teman-teman DPM tahun ini,” pungkasnya. (Achla,Tika)

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini