Strategi Komunikasi Visual: Mengubah Peran Mahasiswa dari Sekadar Pengguna ‎Template Menjadi Pemecah Masalah

0
112

Fenomena ketergantungan digital di kampus menjadi sebuah fenomena menarik. Saat ini, tugas-tugas visual mahasiswa mulai memiliki “wajah” yang identik. Penggunaan platform desain instan seperti Canva telah menjadi standar baru dalam pengerjaan tugas, mulai dari poster kegiatan hingga materi presentasi. Kemudahan yang ditawarkan memang sangat membantu, terutama bagi mahasiswa non-desain untuk fokus pada penyampaian pesan tanpa harus berkutat dengan kerumitan teknis perangkat lunak profesional. Namun, di balik efisiensi tersebut, muncul keresahan mengenai standarisasi visual yang berlebihan.

Ketergantungan pada template siap pakai dikhawatirkan dapat mematikan daya kritis dan orisinalitas mahasiswa. Ketika mahasiswa memulai proses desain dengan memilih template, mereka cenderung membatasi imajinasi hanya pada struktur yang telah disediakan oleh algoritma platform tersebut. Dalam psikologi kognitif, fenomena ini sering disebut sebagai functional fixedness atau hambatan fungsional, yaitu kondisi ketika penggunaan template yang berulang menjebak mahasiswa dalam “kotak berpikir” yang sama.

Saat ini, Canva mencatat lebih dari 170 juta pengguna aktif bulanan di seluruh dunia. Hal ini menciptakan pergeseran masif, di mana jutaan individu mengadopsi standar visual yang serupa. Sejalan dengan pandangan Paul Rand yang menyatakan bahwa desain adalah hubungan antara bentuk dan konten, ketergantungan pada template instan sering kali membuat mahasiswa hanya fokus pada estetika permukaan dan mengabaikan kedalaman pesan yang ingin disampaikan. Seperti yang dikemukakan oleh Steve Jobs, “Design is not just what it looks like and feels like. Design is how it works.” Dalam konteks ini, alat hanyalah sarana, dan kreativitas tidak seharusnya dibatasi oleh perangkat lunak yang digunakan. Pergeseran fokus kreativitas kini lebih diukur dari kemampuan kurasi dan strategi komunikasi visual, bukan lagi sekadar kemampuan teknis dasar seperti membuat bentuk yang sempurna.

Sebagai jalan tengah yang bersifat dialektis, penggunaan platform desain instan harus dibarengi dengan pemahaman dasar mengenai elemen desain dan metodologi Design Thinking yang menempatkan pemecahan masalah di atas estetika. Kreativitas sejati tidak diukur dari kemampuan teknis semata, melainkan pada strategi komunikasi dan kurasi yang matang. Oleh karena itu, agar tidak terjebak dalam template mentality yang membatasi inovasi, mahasiswa harus menempatkan substansi dan solusi sebagai prioritas utama sehingga kreativitas murni tidak tergerus oleh standarisasi visual global yang ditawarkan secara instan.

Meskipun platform desain instan menawarkan kemudahan, esensi dari sebuah karya tetap terletak pada kedalaman pesan dan efektivitas solusi yang ditawarkan. Mahasiswa perlu melakukan pergeseran paradigma dengan mengedepankan metodologi Design Thinking yang memprioritaskan pemahaman masalah sebagai fondasi utama sebelum menyentuh aspek visualisasi. Dengan menempatkan substansi di atas standarisasi, mahasiswa tidak hanya sekadar menjadi pengguna alat, melainkan komunikator visual yang mampu menghasilkan karya yang bermakna di tengah era digital yang seragam.

 

Tim produksi :

Penulis: Zakky Mubarok, Rofiul Khoiri Nur Dzaky

Penyunting: Ronald Budianto

Pemeriksa: Taufik Hidayatullah

Pencari Isu Viral: M. Afriza Baihaqi

EDITOR LPM : Nadia Aulia_LPM

Opini hasil kolaborasi kelompok

Sumber

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini