Bukan Menatap Layar, Melainkan Menatap Mata: Menghidupkan Kembali Hakikat Mengajar di Era Digital

0
67

Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Nadiem Makarim menegaskan bahwa peran guru di era digital tidak akan pernah tergantikan oleh teknologi. Pernyataan ini menuai sorotan luas, baik dari media sosial resmi Kemendikbudristek maupun pemberitaan Kompas.com pada tahun 2024. Meskipun berbagai platform digital telah diciptakan untuk memudahkan guru dalam menyiapkan, menyusun, dan menyampaikan materi ajar di kelas, kehadiran fisik seorang pendidik tetap menjadi hal yang krusial. Sejak akhir abad ke-20 hingga memasuki abad ke-21 saat ini, gawai terbukti tidak mampu memenuhi kebutuhan emosional yang terjalin dalam komunikasi antara guru dan siswa. Padahal, aspek emosional tersebut memegang peranan penting dalam pertumbuhan kognitif peserta didik. Oleh karena itu, pembahasan ini disusun guna menegaskan pentingnya kehadiran personal guru serta strategi praktis untuk menghidupkan kembali interaksi nyata di sekolah.

Sebagai langkah nyata untuk mengembalikan suasana sekolah yang interaktif, kita dapat melihat aktivitas positif yang diterapkan di SMAN 5 Bogor. Melalui persetujuan antara kepala sekolah dan para guru, sekolah ini menerapkan kebijakan tegas berupa pembatasan penggunaan gawai, yaitu telepon genggam (handphone) wajib dikumpulkan pada pagi hari dan baru diambil kembali saat jam pulang sekolah. Langkah sederhana ini ternyata membawa banyak dampak positif bagi ekosistem sekolah. Ruang kelas kembali hidup dengan obrolan langsung, para siswa saling bercanda saat jam istirahat, serta melakukan aktivitas fisik seperti bermain bersama di lapangan dan memainkan permainan tradisional di tengah dominasi penggunaan gawai saat ini.

Perubahan transformatif di SMAN 5 Bogor memberikan bukti empiris bahwa kebiasaan dan budaya di lingkungan sekolah dapat dibentuk ke arah yang lebih sehat melalui implementasi aturan yang tegas, konsisten, dan berkesinambungan. Dengan adanya pembatasan penggunaan gawai yang diterapkan secara konsisten, sekolah berhasil mengurangi ketergantungan digital sekaligus meminimalkan fenomena phubbing, yaitu kondisi ketika seseorang hadir secara fisik tetapi tidak benar-benar hadir dalam interaksi sosial karena terlalu fokus pada telepon genggamnya. Akibatnya, lapangan sekolah dan berbagai ruang publik yang sebelumnya sepi kembali hidup sebagai pusat interaksi sosial yang hangat dan dinamis. Dari sisi psikososial maupun kognitif, kembalinya interaksi tatap muka secara langsung terbukti mampu meningkatkan fokus belajar, memperkuat kepekaan emosional, serta membantu mengoptimalkan memori kerja siswa karena berkurangnya distraksi dari layar digital. Pada akhirnya, iklim akademik yang lebih kondusif tersebut tidak hanya mempererat solidaritas antarsiswa, tetapi juga meningkatkan motivasi belajar dan mendorong pencapaian akademik secara lebih optimal. Kondisi ini dapat menjadi contoh bagi sekolah lain dalam menghidupkan kembali nilai-nilai humanisme di tengah derasnya arus disrupsi teknologi.

Namun demikian, tantangan penyesuaian tidak dapat dihindari, terutama setelah pandemi COVID-19 yang mendorong berkembangnya sistem pembelajaran abad ke-21 melalui metode hybrid learning, yaitu perpaduan antara pembelajaran tatap muka dan pembelajaran daring menggunakan platform seperti Zoom. Dalam situasi tersebut, guru dituntut mampu menyesuaikan materi ajar sekaligus metode penyampaiannya agar tetap efektif. Guru perlu memastikan bahwa pesan emosional tetap tersampaikan, mampu mengelola ruang diskusi virtual (breakout rooms) dengan baik, memberikan umpan balik (feedback) yang bersifat personal, serta menyediakan waktu konsultasi (office hours) bagi peserta didik. Selain itu, pengaturan posisi kamera untuk menjaga kontak mata selama pembelajaran daring juga menjadi bagian penting dalam membangun kedekatan antara guru dan siswa. Sementara itu, sesi tatap muka sebaiknya dimanfaatkan secara maksimal untuk kegiatan kolaboratif, diskusi langsung, serta aktivitas sosial yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh teknologi.

Sebagai langkah keberlanjutan, keberhasilan transformasi tersebut tidak dapat bergantung pada momentum sesaat, melainkan memerlukan dukungan sistem yang komprehensif. Pemerintah dan sekolah perlu menyelenggarakan pelatihan intensif bagi guru agar mampu mengelola kelas tanpa ketergantungan berlebihan terhadap teknologi digital. Selain itu, diperlukan kebijakan sekolah yang jelas, tertulis, dan memiliki dasar hukum yang kuat, disertai penyediaan fasilitas pendukung seperti loker penyimpanan gawai yang aman. Di sisi lain, penerapan aturan tersebut juga harus tetap menghormati hak-hak peserta didik, termasuk menjaga privasi data pribadi, memberikan akses bagi siswa berkebutuhan khusus yang memerlukan perangkat asistif, serta menyediakan pengecualian penggunaan gawai dalam kondisi darurat tertentu. Sekolah juga perlu mempertimbangkan kesiapan emosional dan kemampuan adaptasi setiap siswa agar kebijakan yang diterapkan tidak berubah menjadi tekanan psikologis yang kontraproduktif. Oleh karena itu, melalui perpaduan antara ketegasan regulasi dan penghormatan terhadap hak-hak peserta didik, hakikat pendidikan dapat dihidupkan kembali sebagai proses membentuk karakter, menanamkan nilai-nilai kemanusiaan, dan membangun hubungan yang penuh empati melalui tatapan mata serta interaksi sosial yang nyata, bukan sekadar proses transfer informasi yang dingin di balik layar gawai.

 

Tim Produksi :

Penulis : Salma nur hanifa

penyunting : Anisa Nurul alfiyah

pemeriksa : Wildan rahman

pencari isu viral : Najwa Salsa bella

EDITOR LPM : Nadia Aulia_LPM

Opini merupakan hasil kolaborasi kelompok.

 

SUMBER :

https://www.kompas.com/edu/read/2024/08/23/145638271/mendikbud-teknologi-tidak-akan-gantikan-peran-guru?utm

https://scholar.google.co.id/scholar?hl=id&as_sdt=0%2C5&q=Pengaruh+Intensitas+Penggunaan+Gawai+terhadap+KonsentrasiBelajar+Siswa&btnG=#d=gs_qabs&t=1781495079096&u=%23p%3DOZGUvoKUmRoJ

https://eksplora.id/tanpa-hp-di-sekolah-suasana-berubah-cerita-dari-sman-5-bogo

https://www.merdeka.com/peristiwa/dorong-transformasi-digital-kemendikdasmen-perkuat-kompetensi-guru-dengan-papan-interaktif-digital-536036-mvk.html

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini