
Nilai tukar sangat diperhatikan seluruh negara di dunia karena merupakan fundamental makro ekonomi yang dapat mempengaruhi kinerja perdagangan suatu negara. Setiap negara juga memiliki mata uang tersendiri dalam interaksi antar ekonomi global, yang dilakukan sebagai alat transaksi luar negeri. Namun terkadang dalam interaksi perlu adanya alat ukur untuk mengetahui daya saing uang tersebut terhadap mata uang asing. Dalam perekonomian kestabilan mata uang sangat penting yang dianggap sebagai prasyarat bagi pertumbuhan ekonomi. Stabil secara ekonomi artinya nilai uang tersebut aman dan tidak mudah naik-turun secara drastis, sehingga harga barang di pasar tetap murah dan tidak cepat naik. Kondisi ini membuat masyarakat tenang saat belanja, serta membantu para pengusaha terhindar dari rugi akibat nilai tukar yang mendadak.
Namun, realita yang terjadi belakangan ini menunjukan kondisi yang mengkhawatirkan warga bangsa Indonesia, dimana nilai rupiah mengalami pelemahan yang signifikan khusus nya terhadap Dolar AS. Fluktuasi yang cenderung menurun ini mulai mengikis daya beli masyarakat akibat merangkaknya harga barang-barang, terutama yang berbasis bahan baku impor. Tekanan ini dapat menimbulkan ketidakpastian baru di tengah upaya pemulihan dan juga penguatan ekonomi nasional. Ketergantungan struktural yang membuat ekonomi nasional masih terlalu rentan terhadap perubahan arah kebijakan moneter Amerika Serikat dan dinamika pasar keuangan global.
Lemahnya nilai rupiah membawa sejumlah dampak positif bagi perekonomian nasional. Harga produk ekspor Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar global, sehingga dapat mendorong peningkatan volume ekspor komoditas unggulan seperti sawit, tekstil, dan hasil tambang. Selain itu, sektor pariwisata pun ikut diuntungkan karena Indonesia menjadi destinasi yang lebih terjangkau bagi wisatawan luar Indonesia. Di samping itu, melemahnya nilai tukar dapat menarik minat investor asing dan mendorong industri dalam negeri untuk beralih ke bahan baku lokal sebagai upaya dalam bentuk mengurangi ketergantungan terhadap produk impor. Kondisi ini juga dapat membuka peluang terciptanya lapangan kerja baru, terutama pada sektor-sektor yang berorientasi ekspor. Apabila dikelola dengan baik melalui kebijakan pemerintah yang tepat, pelemahan nilai rupiah dapat menjadi momentum untuk meningkatkan daya saing industri nasional, memperkuat struktur ekonomi domestik, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan.
Namun di sisi lain, melemahnya nilai rupiah turut menimbulkan berbagai persoalan masalah ekonomi. Harga barang impor yang melonjak berpotensi memicu inflasi dan menekan daya beli masyarakat. Selain itu, ketergantungan terhadap mata uang dalam berbagai sektor membuat pemerintah menghadapi tantangan yang lebih besar dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional. Beban pelaku usaha yang masih bergantung pada bahan baku impor juga meningkat karena biaya produksi menjadi lebih mahal. Akibatnya, banyak perusahaan terpaksa menaikkan harga jual produk atau mengurangi kapasitas produksi, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi tingkat penyerapan tenaga kerja. Di sisi lain, utang luar negeri pemerintah maupun swasta yang menggunakan mata uang asing juga menjadi lebih besar jika ditukarkan ke rupiah. Apabila kondisi ini berlangsung dalam jangka waktu lama tanpa diimbangi kebijakan moneter dan fiskal yang efektif, maka pertumbuhan ekonomi nasional berpotensi melambat serta mengurangi kepercayaan investor terhadap stabilitas perekonomian Indonesia.
Kondisi melemahnya nilai rupiah memiliki dampak positif dan negatif bagi perekonomian Indonesia, sehingga diperlukan langkah yang tepat untuk meminimalkan resikonya. Pemerintah perlu menjaga stabilitas ekonomi melalui kebijakan moneter dan fiskal yang efektif, memperkuat sektor ekspor, mendorong penggunaan produk dan bahan baku lokal, serta mengurangi ketergantungan pada impor. Di sisi lain, masyarakat dan pelaku usaha juga dapat berkontribusi dengan mendukung produk dalam negeri dan mengelola keuangan secara bijak. Dengan kerja sama antara pemerintah dan masyarakat diharapkan stabilitas nilai tukar rupiah dapat terjaga dan pertumbuhan ekonomi nasional tetap berkelanjutan.
Tim Produksi :
Penulis : IRMA DWI RATNASARI
penyunting : SHINFIYAH WAZNA AUFARIA
pemeriksa : ARIYAN HENDRI SUSILO
pencari isu viral : SHOLICHATUN NISA
EDITOR LPM : Nadia Aulia_LPM
Opini merupakan Tugas kolaborasi dari Ppkn Unirow.
SUMBER:
https://ojs.cahayamandalika.com/index.php/jml/article/download/3900/3030/
https://jurnal.mdp.ac.id/index.php/prima/article/download/11311/2341
https://share.google/L5AF5HA0nVJRgCyof
https://journal.areai.or.id/index.php/Moneter
https://jurnal.unismuhpalu.ac.id/index.php/JKS/article/view/9796
https://www.kompas.id/artikel/rupiah-tembus-rp-17900-sampai-kapan-terus-begini
https://ejournal.45mataram.ac.id/index.php/economina/article/view/1083