Kesenjangan Transportasi Perahu di Desa Dermalang Kecamatan Widang Kabupaten Tuban

0
173
Doc./Pinterest.com/

Desa Dermalang, Kecamatan Widang, Kabupaten Tuban, adalah contoh nyata bagaimana keterbatasan infrastruktur dapat mengisolasi masyarakat dari akses dasar. Desa yang dihuni sekitar 70 kepala keluarga ini terletak jauh dari pusat desa dan dikelilingi sawah serta tambak. Saat musim hujan tiba, jalan tanah yang belum diaspal berubah menjadi lautan lumpur licin yang sulit dilalui kendaraan. Selain itu, keberadaan hewan berbahaya seperti ular, biawak, dan kalajengking menambah risiko bagi warga yang harus melintas di area tersebut.

Ironisnya, meskipun perahu seharusnya menjadi alternatif transportasi saat jalan darat tidak bisa dilewati, fasilitas transportasi air di desa ini sangat terbatas. Pada tahun 2023, pemerintah daerah memberikan bantuan dua perahu, namun jumlah tersebut jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh warga. Mayoritas perahu yang ada milik pribadi dan digunakan untuk keperluan tambak, bukan transportasi umum. Akibatnya, warga, termasuk anak-anak, lansia, dan ibu hamil, harus berjuang sendiri melewati rintangan berat demi mengakses desa lain atau fasilitas penting seperti sekolah dan layanan kesehatan.

Kesenjangan transportasi ini berdampak luas pada berbagai aspek kehidupan. Di bidang ekonomi, petani dan petambak kesulitan menjual hasil panen karena distribusi terhambat saat banjir, menyebabkan harga hasil panen turun sementara harga kebutuhan pokok naik. Di bidang pendidikan, banyak siswa terpaksa berhenti sekolah karena akses terputus oleh genangan air. Di sektor kesehatan, keterbatasan transportasi menyebabkan warga harus menunggu banjir surut untuk mendapatkan layanan medis, yang berpotensi fatal dalam kondisi darurat.

Warga Desa Dermalang berharap pemerintah, baik di tingkat kabupaten maupun pusat, mengambil langkah nyata. Mereka menginginkan pembangunan jalan yang tahan banjir, jembatan yang kokoh, dan penyediaan perahu motor umum dalam jumlah memadai. Memang, kondisi geografis desa yang dikelilingi tambak dan sawah membuat pembangunan infrastruktur lebih menantang dan mahal, tetapi hal ini tidak boleh menjadi alasan untuk membiarkan ribuan warga hidup dalam keterisolasian setiap musim hujan.

Saat musim hujan, ketika jalan darat berubah menjadi lumpur tebal dan licin, warga hanya bisa berharap pada perahu seadanya yang jumlahnya sangat terbatas. Ini bukan sekadar masalah musiman, melainkan bukti bahwa pemerataan pembangunan infrastruktur belum menyentuh desa-desa pinggiran. Negara harus hadir bukan hanya dengan bantuan simbolik, tetapi dengan kebijakan yang menjamin hak mobilitas dan keselamatan seluruh warganya, termasuk mereka yang tinggal jauh dari pusat kekuasaan.

Jika kondisi seperti ini terjadi di kota, tentu tidak akan dibiarkan begitu saja. Kesenjangan transportasi di Desa Dermalang bukan hanya soal jalan rusak dan kurangnya perahu, tapi soal negara yang belum sepenuhnya hadir bagi warganya di musim hujan. Pemerintah daerah perlu memprioritaskan pembangunan jalan dengan material tahan air seperti paving blok berlubang atau beton pracetak yang mendukung drainase baik. Jalan penghubung utama harus dirancang dengan matang mengingat kondisi geografis desa.

Desa Dermalang sebenarnya memiliki potensi besar untuk menjadi contoh pengembangan transportasi berkelanjutan bagi desa-desa lain. Kesenjangan transportasi ini harus dijadikan peluang untuk menciptakan perubahan yang lebih baik bagi desa-desa pinggiran. Saatnya kita bertanya: Apa yang bisa kita lakukan bersama untuk mengatasi kesenjangan transportasi perahu di Desa Dermalang? Mari mulai diskusi dan kerja sama untuk solusi efektif dan berkelanjutan.

Penulis : Janatul Imama / PBSI

Editor   : Ika Nur J

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini