Merdeka Belajar hadir sebagai sebuah visi untuk mewujudkan sekolah yang kita cita-citakan, yaitu sekolah yang menumbuhkan kompetensi dan karakter semua murid, membekali mereka untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat, dan menanamkan nilai-nilai Pancasila.
Kurikulum Merdeka menjadi alat bantu utama dalam mewujudkan transformasi pendidikan dan mencapai cita-cita tersebut. Dirancang untuk menumbuhkan literasi membaca dan karakter murid, Kurikulum Merdeka membuka ruang bagi penerapan berbagai metode pembelajaran yang inovatif dan kreatif.
Disampaikan oleh Nadiem Anwar Makarim selaku Mendikbudristek, Anindito Aditomo, Kepala BSKAP (Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan), dan E. Aminudin Aziz sebagai Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa pada Senin, (20/5/2024), Sastra Masuk Kurikulum: Menumbuhkan Minat Baca, Empati, Kreativitas, dan Nalar Kritis.
Dalam rangka memperkuat implementasi Kurikulum Merdeka dan BSKAP, Kemendikbudristek meluncurkan program “Sastra Masuk Kurikulum”. Program ini bertujuan untuk memanfaatkan karya sastra sebagai sarana pembelajaran yang efektif di berbagai mata pelajaran, tidak hanya Bahasa Indonesia.
Melalui Sastra Masuk Kurikulum, diharapkan tercapainya beberapa tujuan, yaitu meningkatkan minat baca murid, seperti karya sastra yang kaya dan menarik akan membangkitkan kecintaan murid terhadap membaca, membuka jendela ilmu pengetahuan, dan memperluas wawasan mereka. Kedua, menumbuhkan empati seperti cerita-cerita dalam karya sastra mampu membawa murid menyelami berbagai pengalaman dan sudut pandang, menumbuhkan empati dan rasa peduli terhadap sesama. Ketiga, Mengasah kreativitas di antaranya karya sastra memicu imajinasi dan mendorong murid untuk berpikir kreatif, menuangkan ide dan gagasan mereka dengan cara yang inovatif. Keempat, dapat mempertajam nalar kritis, seperti analisis karya sastra melatih murid untuk berpikir kritis, mempertanyakan, dan mengevaluasi informasi, serta membangun argumen yang logis dan terstruktur.
Sinergi Berbagai Pihak untuk Keberhasilan Sastra Masuk Kurikulum
Keberhasilan program Sastra Masuk Kurikulum membutuhkan sinergi dan komitmen dari berbagai pihak, Kemendikbudristek menyediakan panduan implementasi yang jelas, pelatihan guru yang komprehensif, dan dukungan infrastruktur yang memadai. Guru Menjadi fasilitator yang kreatif dan inovatif dalam mengintegrasikan karya sastra ke dalam pembelajaran. Orang tua memberikan dukungan dan dorongan kepada anak untuk membaca dan mengapresiasi karya sastra. Masyarakat dapat berperan aktif dalam menciptakan lingkungan yang kondusif bagi tumbuhnya budaya literasi dan kecintaan terhadap sastra.
Sastra Masuk Kurikulum merupakan langkah strategis dalam mewujudkan generasi muda yang literat, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan masa depan. Dengan kolaborasi dan komitmen dari semua pihak, program ini diharapkan dapat mencapai tujuannya dan membawa manfaat yang signifikan bagi kemajuan pendidikan di Indonesia.
Mari bersama kita dukung Sastra Masuk Kurikulum untuk melahirkan generasi emas bangsa!
Pendapat mengenai program “Sastra Masuk Kurikulum” yang diluncurkan oleh Kemendikbudristek sangat positif dan mendukung visi besar dari Kurikulum Merdeka. Berikut adalah beberapa poin yang dapat menambah wawasan dan memperkuat opini tersebut.
Pertama, peningkatan literasi membaca. Dengan memasukkan karya sastra ke dalam kurikulum, murid tidak hanya belajar tentang bahasa dan struktur sastra, tetapi juga terpapar dengan berbagai tema, budaya, dan perspektif. Hal ini secara langsung dapat meningkatkan kemampuan literasi mereka, karena mereka terbiasa membaca dan memahami teks-teks yang lebih kompleks dan beragam.
Kedua, pengembangan karakter melalui empati. Karya sastra sering kali menggambarkan kehidupan, konflik, dan perasaan karakter-karakter di dalamnya. Dengan mempelajari karya sastra, murid dapat memahami berbagai situasi dan kondisi manusia, yang pada gilirannya dapat menumbuhkan rasa empati dan kepedulian terhadap sesama. Ini adalah nilai yang sangat penting dalam membentuk karakter murid.
Ketiga, kreativitas dan imajinasi. Membaca dan menganalisis sastra merangsang imajinasi dan kreativitas murid. Mereka belajar melihat dunia dari berbagai sudut pandang dan mengekspresikan diri mereka dengan cara yang unik dan inovatif. Ini sangat penting dalam membekali mereka untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat yang adaptif dan kreatif.
Keempat, pemikiran kritis. Analisis dan interpretasi karya sastra melatih kemampuan berpikir kritis murid. Mereka belajar untuk tidak hanya menerima informasi, tetapi juga mempertanyakan, menganalisis, dan mengevaluasi argumen serta konteks yang ada. Ini adalah keterampilan penting yang diperlukan untuk sukses di dunia yang kompleks dan dinamis.
Dan terakhir, sinergi multi-pihak. Keberhasilan program ini tidak hanya tergantung pada guru, tetapi juga membutuhkan dukungan dari orang tua dan masyarakat. Kolaborasi antara berbagai pihak ini menciptakan ekosistem pendidikan yang holistik dan mendukung perkembangan murid secara menyeluruh.
Secara keseluruhan, program “Sastra Masuk Kurikulum” adalah langkah maju yang strategis dalam transformasi pendidikan di Indonesia. Ini tidak hanya mendukung pengembangan kompetensi akademik, tetapi juga membentuk karakter dan keterampilan hidup yang penting bagi generasi muda. Dengan dukungan dan komitmen dari semua pihak, diharapkan program ini dapat membawa manfaat besar bagi kemajuan pendidikan di Indonesia dan mempersiapkan murid untuk menghadapi tantangan masa depan.
Penulis: Kanisa Maysita
Penulis merupakan Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 2021 FKIP -Universitas PGRI Ronggolawe Tuban dan opini ini merupakan tugas mata kuliah Jurnalistik yang diampu oleh Ibu Yunita Suryani, M.Pd.
