LPM Waskita – Nugget merupakan produk
olahan dari daging giling, diberi penambahan bumbu sehingga memiliki cita rasa
tertentu, yang kemudian dicetak dan dilumuri dengan tepung roti pada bagian
permukaannya. Pada umumnya daging yang digunakan adalah daging ayam. Namun, seiring
berkembangnya zaman nugget dapat diolah dari berbagai macam bahan dasar. Seperti
yang dilakukan mahasiswa KKN Unirow yang mengadakan pelatihan pembuatan nugget
dengan bahan dasar jagung di Desa Jlodro, Kecamatan Kenduruan, Kabupatan Tuban pada
Sabtu (13/08).
Pelatihan tersebut di hadiri oleh
anggota kelompok Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) dan Kader Posyandu
yang berjumlah kurang lebih 15 orang. Mulanya, pelatihan akan dimulai pada
pukul 14.00 WIB, tetapi karena turun hujan sehingga di undur menjadi pukul
14.30 WIB.
Desa Jlodro merupakan daerah
penghasil jagung. Untuk itu kelompok II KKN Desa Jlodro memilih pelatihan
pembuatan nugget sebagai wujud inovasi hasil panen jagung milik masyarakat
setempat agar menjadi olahan makanan yang lebih memiliki nilai jual.
“Tujuan kegiatan ini untuk
meningkatkan UMKM di Desa Jlodro. Karena selama ini, kami melihat belum ada
pengolahan lebih mengenai pembuatan jagung, karena biasanya langsung di jual sehingga
tidak ada pengolahan lebih lanjut,” jelas Dina Puspita Sari selaku wakil ketua.
Persiapan pelatihan dilakukan
selama kurang lebih dua minggu. Minggu pertama digunakan untuk uji coba porsi
dan komposisinya, sedangkan minggu kedua mulai mempersiapkan bahan sekaligus
pembuatan agar saat pelatihan sudah ada sample
yang bisa ditunjukkan kepada peserta pelatihan.
“Pembelian bahan relatif jauh
karena harus ke Kecamatan Jatirogo yang jaraknya kurang lebih 17 km. Sebenarnya
ada pasar yang lebih dekat yaitu di Karanganyar Kecamatan Kenduruan tetapi itu pasar
kecil, sedangkan pasar yang lebih lengkap ada di Kecamatan Jatirogo,” ungkap
Dina saat ditanya mengenai kendala dalam persiapan.
Bahan dan cara membuat nugget masih
sama dengan nugget pada umumnya, hanya saja bahan dasarnya diganti dengan
jagung. Namun, yang membedakan nugget jagung dengan nugget ayam yaitu ciri khas
cita rasanya yang lebih kenyal seperti makanan tradisional pelas.
“Untuk penjualan kita belum menargetkan, cuma mungkin perbijinya bisa dijual
seharga seribu rupiah. Sedangkan budget yang di keluarkan untuk membuat
nugget jagung juga sangat terjangkau yakni 15 ribu rupiah saja. Untuk saat ini,
masih terdapat satu varian rasa yaitu rasa original,” tambahnya.
Pelatihan tersebut di laksanakan di
kediaman Ibu Resmiati yang juga salah satu anggota dari kelompok PKK di Desa Jlodro.
Beliau tertarik mengikuti kegiatan tersebut karena ingin bisa membuat nugget
dari jagung, yang mana bahan bakunya berasal dari hasil panen sendiri sehingga
mudah untuk ditemukan.
Perangkat Desa Jlodro juga sangat mengapresiasi
kegiatan tersebut. “Pemdes Jlodro sangat
mengapresiasi pelatihan nugget jagung ini, karena dapat memberikan ilmu tentang
pengolahan jagung menjadi nugget kepada pesertanya dan terimakasih banyak kepada adik-adik
KKN yang sudah memberi pelatihan bagi warga Jlodro khususnya bagi ibu-ibu,” tutur
Bapak
Yarno saat ditemui di kediamannya.
Selain itu, Bapak Yarno selaku sekretaris
desa menjelaskan bahwa pelatihan tersebut bisa menjadi peluang bisnis mikro
yang sangat bagus. Karena pemasarannya mudah sehingga beberapa warga Jlodro sudah
ada yg berjualan nugget, meskipun bahan bakunya bukan dari jagung.
Total luas Desa Jlodro adalah 890
hektare. Sedangkan luas lahan yang ditanami jagung sekitar 175 hektare. Apabila
panen, hasil per hektare kurang lebih 4-5 ton. Untuk kualitas jagung di Desa Jlodro
bergantung dari jenis bibitnya. Sebagian besar warga Desa Jlodro memakai bbit jagung
NK Perkasa yang menurut petani kualitasnya bagus dan hasil panennya melimpah.
“Musim tanam jagung tidak pernah berhenti
kecuali saat kemarau, jadi karena bahan baku yang melimpah di desa makanya bagus
sekali apabila diadakan pendampingan mulai awal sampai dengan penjualan produk nugget
jagung ini karena bisa membantu menambah penghasilan bagi ibu-ibu rumah tangga,”
pungkasnya. (susanto)



