Tuban –Komunitas Teater Institut (KTI) UNIROW Tuban sukses menggelar Pentas Karya Diklat & Dies Natalis XXVII pada Sabtu (25/4/2026) pukul 19.00 WIB di Panggung Budaya UNIROW. Mengusung tema “Di Gubah Ora Obah, Di Gunem Soyo Ayem”, kegiatan ini menegaskan eksistensi teater yang tetap hidup dan relevan di tengah gempuran modernitas.
Tema yang diangkat sarat makna filosofis. “Di gubah ora obah” bermakna tidak mudah terprovokasi saat diusik, sementara “di gunem soyo ayem” menggambarkan ketenangan meski menjadi bahan pembicaraan. Nilai kesabaran, kebijaksanaan, hingga pengendalian diri menjadi pesan utama yang dihadirkan, sekaligus memperlihatkan bahwa ketenangan adalah bentuk kekuatan.
Pimpinan produksi, Muhamad Itsnan Sulton Farihuddin, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan hasil proses panjang yang tidak hanya berfokus pada pementasan, tetapi juga pembentukan karakter anggota. “Proses yang dijalani kurang lebih 3–4 bulan, mulai dari latihan, penyusunan konsep, hingga teknis acara. Ini adalah kerja kolektif seluruh anggota,” ujarnya.
Ia juga mengakui adanya kendala dalam keterbatasan jumlah pengurus. Namun, hal tersebut tidak menjadi hambatan berarti. “Sedikitnya pengurus bukan berarti sedikitnya semangat,” tambahnya.
Pembina turut mengapresiasi terselenggaranya kegiatan ini. Ia berpesan agar seluruh peserta mampu mengambil nilai-nilai positif serta menjadikan kegiatan ini sebagai ruang inovasi dan wujud kecintaan terhadap seni.
Sementara itu, Wakil Rektor III UNIROW, Suantoko M.pd, menyoroti perjalanan panjang KTI yang telah memasuki usia ke-27 tahun. Menurutnya, eksistensi tersebut menjadi bukti bahwa teater masih memiliki tempat di tengah masyarakat.
“Di tengah gempuran digital dan perfilman, teater tetap eksis karena mampu menghadirkan realitas secara langsung,” ungkapnya.
Sebagai puncak acara, dua pementasan utama berhasil memikat perhatian penonton. Penampilan pertama bertajuk KAMIT karya Komunitas Teater Institut dengan sutradara Jalna, mengangkat kisah realistis tentang pencarian makna hidup dan ketenangan batin. Pementasan ini menghadirkan refleksi kehidupan yang dekat dengan realitas sehari-hari.
“Menarik, ini pertama kali saya menonton teater dan merasa sangat terhibur. Pesannya, jangan karena gaya hidup kita melupakan kebutuhan,” ujar Novi, salah satu penonton.
Penampilan kedua menghadirkan kolaborasi dengan Teater Kaged Madura melalui lakon TABUN garapan sutradara Gateng. Pementasan ini membawa nuansa baru dengan pendekatan simbolik yang mengangkat relasi manusia dengan kehidupan, mulai dari ketergantungan pada alam, konflik perebutan lahan, hingga makna keberadaan.
Pesan yang diangkat menegaskan bahwa hidup bukan sekadar tentang memiliki . Kalimat reflektif seperti “amarah hanyalah sementara, penyesalan selamanya” menjadi penguat pesan yang disampaikan di atas panggung.
Kolaborasi lintas daerah ini menjadi salah satu pembeda dibanding tahun sebelumnya. Selain memperkaya perspektif berkesenian, kehadiran komunitas dari Madura juga menjadi bentuk silaturahmi dan pertukaran pengalaman antar pelaku seni. Juga turut hadir perwakilan komunitas seni dari Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Yogyakarta.
Secara keseluruhan, pementasan menghadirkan beragam gaya yang tetap selaras dengan tema. Penonton tidak hanya terhibur, tetapi juga diajak memahami makna yang disampaikan.
Harapannya, kegiatan ini tidak berhenti sebagai agenda tahunan semata, tetapi terus menjadi ruang belajar, berekspresi, serta memperkuat jejaring antar komunitas seni di berbagai daerah.
Penulis & reporter : Nadia aulia



