“Duniaku bukan pangkat, jabatan, dan kecurangan. Duniaku bumi manusia
dengan segala persoalan yang mengikutinya”
dengan segala persoalan yang mengikutinya”
Begitulah salah satu kalimat yang menjadi
andalan dalam roman Bumi Manusia karya salah satu maestro sastra yang pernah
dimiliki negeri ini–Pramoedya Ananta Toer. Kalimat tersebut sepertinya tak hanya ada
dalam isi roman Bumi Manusia, namun juga memengaruhi kepelikan proses
ekranisasi Bumi Manusia yang di sutradari Hanung Bramantyo di bawah naungan PH
Falcon Pictures.
andalan dalam roman Bumi Manusia karya salah satu maestro sastra yang pernah
dimiliki negeri ini–Pramoedya Ananta Toer. Kalimat tersebut sepertinya tak hanya ada
dalam isi roman Bumi Manusia, namun juga memengaruhi kepelikan proses
ekranisasi Bumi Manusia yang di sutradari Hanung Bramantyo di bawah naungan PH
Falcon Pictures.
Pro dan kontra menyembur dari berbagai
kalangan baik golongan tua, muda, penikmat sastra, maupun generasi milenial
yang sama sekali tak mengenal Bumi Manusia dan Pramoedya, turut mewarnai
kericuhan yang ditimbulkan akibat ekranisasi Bumi Manusia.
kalangan baik golongan tua, muda, penikmat sastra, maupun generasi milenial
yang sama sekali tak mengenal Bumi Manusia dan Pramoedya, turut mewarnai
kericuhan yang ditimbulkan akibat ekranisasi Bumi Manusia.
Seketika masing-masing golongan seakan
perang argumentasi begitu munculnya berita akan diangkatnya Roman Bumi Manusia
ke dalam layar lebar. Beberapa pengagum Pram dan penikmat sejati Bumi Manusia
tidak setuju terkait diangkatnya Bumi Manusia ke dalam visualisasi nyata layar
lebar, hal tersebut dikarenakan bagi mereka menganggap lebih baik apabila Bumi
Manusia tetap menjadi sastra tulis dengan segala keagungannya. Selain itu
bayangan pembaca tentang tokoh-tokoh yang ada dalam Bumi Manusia pun dirasa
terkotak-kotak apabila divisualisasikan dalam bentuk film. Sebab Minke dalam
bayangan orang satu dengan orang yang lain berbeda, bagaimana cantiknya
Annelies bagi seorang satu dengan orang yang lain pun berbeda, atau seberapa
tangguh dan anggunnya Nyai Ontosoroh pun memunculkan bayangan berbeda dari otak
masing-masing orang.
perang argumentasi begitu munculnya berita akan diangkatnya Roman Bumi Manusia
ke dalam layar lebar. Beberapa pengagum Pram dan penikmat sejati Bumi Manusia
tidak setuju terkait diangkatnya Bumi Manusia ke dalam visualisasi nyata layar
lebar, hal tersebut dikarenakan bagi mereka menganggap lebih baik apabila Bumi
Manusia tetap menjadi sastra tulis dengan segala keagungannya. Selain itu
bayangan pembaca tentang tokoh-tokoh yang ada dalam Bumi Manusia pun dirasa
terkotak-kotak apabila divisualisasikan dalam bentuk film. Sebab Minke dalam
bayangan orang satu dengan orang yang lain berbeda, bagaimana cantiknya
Annelies bagi seorang satu dengan orang yang lain pun berbeda, atau seberapa
tangguh dan anggunnya Nyai Ontosoroh pun memunculkan bayangan berbeda dari otak
masing-masing orang.
Namun, tidak sedikit pula yang mengharapkan
visualisasi nyata dari roman yang sudah diterjemahkan lebih dari 32 bahasa itu.
Beberapa orang penasaran tentang sosok Minke, kecantikan Annelies, dan
keanggunan Nyai Ontosoroh secara nyata, pun tidak sedikit yang penasaran dengan
kisah cinta antara Minke dan Annelies untuk lebih bagus apabila
divisualisasikan secara nyata.
visualisasi nyata dari roman yang sudah diterjemahkan lebih dari 32 bahasa itu.
Beberapa orang penasaran tentang sosok Minke, kecantikan Annelies, dan
keanggunan Nyai Ontosoroh secara nyata, pun tidak sedikit yang penasaran dengan
kisah cinta antara Minke dan Annelies untuk lebih bagus apabila
divisualisasikan secara nyata.
Selain isu tersebut, ada isu lain yang tak
kalah mengejutkan dan mengguncang perasaan pecinta Pram dan penikmat keagungan
Bumi Manusia, yakni didapuknya Iqbal Ramadhan yang merupakan eks boy grup CJR
dengan berjuta Fans girl yang mungkin saja jumlahnya melebihi para fans oppa
korea.
kalah mengejutkan dan mengguncang perasaan pecinta Pram dan penikmat keagungan
Bumi Manusia, yakni didapuknya Iqbal Ramadhan yang merupakan eks boy grup CJR
dengan berjuta Fans girl yang mungkin saja jumlahnya melebihi para fans oppa
korea.
Keguncangan kali kedua perihal ekranasi
Bumi Manusia kali ini melebihi guncangan isu pertama. Pengagum Pram dan
penikmat Bumi Manusia merasa ada yang ganjal dan kurang tepatnya Iqbal
memerankan sosok Minke yang pada dasarnya merupakan tokoh asli pahlawan
Indonesia, Tirto Adhi Soerjo yang merupakan Bapak Pers Nasional. Ketidakpuasan
perihal Iqbal yang memerankan salah satu tokoh besar Indonesia adalah karena
Iqbal masih terkesan ke’Dilan’an yang milenial, hingga menyebabkan munculnya petisi penolakan
Iqbal sebagai Minke.
Bumi Manusia kali ini melebihi guncangan isu pertama. Pengagum Pram dan
penikmat Bumi Manusia merasa ada yang ganjal dan kurang tepatnya Iqbal
memerankan sosok Minke yang pada dasarnya merupakan tokoh asli pahlawan
Indonesia, Tirto Adhi Soerjo yang merupakan Bapak Pers Nasional. Ketidakpuasan
perihal Iqbal yang memerankan salah satu tokoh besar Indonesia adalah karena
Iqbal masih terkesan ke’Dilan’an yang milenial, hingga menyebabkan munculnya petisi penolakan
Iqbal sebagai Minke.
Tentu saja bukan hanya alasan tersebut,
namun Iqbal dirasa terlalu muda dan kewibawaan yang kurang untuk membawa nama
Minke, meski pun usianya sama seperti usia Minke dalam Bumi Manusia, tidak
lantas membuat Iqbal lolos kriteria begitu saja di mata penikmat Bumi Manusia.
namun Iqbal dirasa terlalu muda dan kewibawaan yang kurang untuk membawa nama
Minke, meski pun usianya sama seperti usia Minke dalam Bumi Manusia, tidak
lantas membuat Iqbal lolos kriteria begitu saja di mata penikmat Bumi Manusia.
Hal tersebut dibantah oleh sutradara,
Hanung Bramantyo yang menyebut bahwa Iqbal adalah Minke karena keadaan Iqbal
yang menimba ilmu di USA dengan sebagai pribumi Indonesia yang mengenyam
pendidikan di negeri orang dan harus menggunakan bahasa asing serta tidak
sedikit Iqbal mendapat celaan dari temannya, sama seperti sosok Minke.
Hanung Bramantyo yang menyebut bahwa Iqbal adalah Minke karena keadaan Iqbal
yang menimba ilmu di USA dengan sebagai pribumi Indonesia yang mengenyam
pendidikan di negeri orang dan harus menggunakan bahasa asing serta tidak
sedikit Iqbal mendapat celaan dari temannya, sama seperti sosok Minke.
Kesamaan lain yang dialami Iqbal adalah
bahwa antara Iqbal dan Minke sama-sama haus akan pengetahuan dan kemajuan
bangsa lain, bedanya Minke sedang dalam kekaguman tentang peralihan dunia
modern, sedangkan Iqbal dalam dunia milenial, bagi Hanung antara milenial dan
modern tidak ada bedanya. Hal tersebut
yang membuat Hanung mantap memilih Iqbal sebagai Minke. Selain itu, Iqbal sebelumnya telah membaca
roman Bumi Manusia dan telah meresensi sebagai tugasnya. Alangkah lebih percaya
dirinya Hanung memilih Iqbal dan dirasa merupakan sosok Minke di dunia nyata.
bahwa antara Iqbal dan Minke sama-sama haus akan pengetahuan dan kemajuan
bangsa lain, bedanya Minke sedang dalam kekaguman tentang peralihan dunia
modern, sedangkan Iqbal dalam dunia milenial, bagi Hanung antara milenial dan
modern tidak ada bedanya. Hal tersebut
yang membuat Hanung mantap memilih Iqbal sebagai Minke. Selain itu, Iqbal sebelumnya telah membaca
roman Bumi Manusia dan telah meresensi sebagai tugasnya. Alangkah lebih percaya
dirinya Hanung memilih Iqbal dan dirasa merupakan sosok Minke di dunia nyata.



